Share

Berburu Artefak Bojonegoro Di Museum Tropen Belanda (I): Tersimpan di Depo

Nove Zain Wisuda, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di RSUD Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memperoleh bea siswa belajar tentang kesehatan di “Kolonial Institut” (KIT) di Belanda, pada 27 Februari sampai 11 Maret.

Selain, mengikuti kegiatan pendidikan di KIT, ia juga menyempatkan membuat laporan kepada kanalbojonegoro.com terkait kegiatannya selama di Belanda, terutama mencari artefak yang berbau Bojonegoro. Berikut laporannya,

Bojonegoro (Media Center) – Saya berangkat dari Tanah Air, melalui Bandara Juanda, Sidoarjo, pada 27 Februari dan sampai Belanda, sehari kemudian.

Meskipun masih kelelahan setelah lama dalam perjalanan dari Tanah Air ke Belanda, setelah berkoordinasi dengan  pihak lembaga KIT, maka saya di waktu sela, berangkat menuju Museum Tropen.

Tidak banyak waktu yang bisa saya manfaatkan untuk ngubek-ubek Museum Tropen di Amsterdam, Belanda, untuk mencari artefak berbau Bojonegoro, Jawa Timur, karena padatnya kegiatan kuliah di KIT.

Di lantai dua, yang menjadi ajang pameran berbagai artefak dari negara tropis yang menjadi negara jajahan Belanda itu, saya tidak berhasil menemukan satupun artefak yang berbau Bojonegoro.

Termasuk artefak Ki Samin Surosentiko, yang juga ditokohkan masyarakat Bojonegoro, selain Blora, Jawa Tengah, karena kegigihannya melawan penjajah Kolonial Belanda.

Terkait artefak Samin Surosentiko , informasinya Tim Sejarah Bojonegoro, juga menelusuri Makam Ki Samin Surosentiko, di Sawahlunto, Sumatera.

Banyak artefak yang saya ambil gambarnya dari berbagai daerah di Tanah Air, yang dipamerkan di Museum Tropen, antara lain, foto wajah sejumlah warga Semarang, foto panen tembakau di Deli, Sumatera, peralatan candu, juga berbagai artefak lainnya dari berbagai daerah di Tanah Air.

Padahal, sebelum berangkat ke Belanda, ketika masih di Bojonegoro dari hasil googling saya di web tropenmuseum, saya berhasil menemukan artefak berbau Bojonegoro, antara lain, rel kereta api (KA) di Stasiun Kapas, Bojonegoro.

Selain itu, juga tempat air minum dari tanah liat atau kendi, yang disebut produksi Bojonegoro. Tidak hanya itu, saya juga memperoleh gambar sejumlah warga Kecamatan Malo, yang beternak babi dan memiliki anjing.

Sayapun memberanikan diri bertanya kepada petugas Museum Tropen, dan memperoleh jawaban sedikit melegakan.

“Kemungkinan artefak Bojonegoro ada di depo,” ucap penjaga Museum.

Depo yang dimaksud disini adalah ruangan yang menyimpan banyak artefak dari berbagai negara daerah tropis yang berada di lantai bawah juga di Museum Tropen, tapi tidak terbuka untuk umum.

Di Museum Tropen ini, banyak ribuan cerita, karya menarik dari seni dan benda-benda menarik membawa budaya yang berbeda untuk hidup. Di Museum Tropis, kita bisa melakukan perjalanan melalui dunia dan melalui waktu dengan melihat artefak yang dipamerkan.

KIT dalam bahasa inggris “The Royal Tropical Institute” berdiri, pada 1864. Didirikan oleh Colonial Museum di kota Harleem, dengan tujuan untuk pengembangan ilmu dan pendidikan. Semula, KIT berisi koleksi artefak budaya dan antropologi dari wilayah Hindia Belanda.
Selain itu, museum juga melakukan penelitian dengan tujuan peningkatan produksi dan pengolahan hasil tropis seperti kopi, rotan, parafin
“Pada 1910 didirikan “Colonial Institute” yang merupakan pengabungan dengan “Colonial Museum”, di Amsterdam.
Pembangunan gedung,  dimulai 1915, didesain dengan memperlihatkan keanekaragaman budaya daerah koloni Belanda, dengan masa waktu pembangunan selama 11 tahun.(bersambung)

Leave a Comment