Share

Pemkab Bojonegoro Dukung Koperasi Perajin Batik

Bojonegoro (Media Center) – Perajin batik di Bojonegoro belum memiliki bagian pasar (market share) yang besar, bahkan di pasar  wilayah Kabupaten Bojonegoro sendiri. Selain karena usaha batik di Bojonegoro baru tumbuh, para perajin belum memiliki wadah yang cukup untuk berkembang. “Oleh karena itu para perajin harus bergerak bersama,” ujar Kepala Seksi Kelembagaan, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bojonegoro, Slamet Wiyono pada Sabtu (14/5).

Di hadapan puluhan perajin batik jonegoroan, Slamet mengatakan, bergerak bersama dalam wadah koperasi akan menguatkan permodalan dan pemasaran. “Pemkab siap mendampingi dan mendukung kegiatan koperasi ini,” ujar dia dalam Rapat Anggaran Tahunan Koperasi Industri Batik dan Kaos Jonegoroan itu. Pada kesempatan tersebut, dia menyatakan apresiasi kepada ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang selama ini terus mendukung pengembangan industri batik jonegoroan melalui koperasi ini.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dewan Koperasi dan Industri Daerah (Dekopinda) Adie Witjaksono menyampaikan bahwa para pengrajin harus terus berusaha mencari dukungan dari pihak lain selain EMCL. “Selama ini kan didorong terus sama EMCL, nanti kalau programnya sudah selesai, koperasi ini harus mencari kerjasama dengan institusi lain,” ucap dia.

Adie menegaskan, para pengrajin harus lebih inovatif dalam menembangkan motif batik, tidak hanya berkutat pada batik jonegoroan. Perajin harus jeli melihat pangsa pasar mana yg lebih potensial untuk dikembangkan. “Sehingga para anggota koperasi mampu mengakomodir kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Adie juga menekankan bahwa komitmen pengurus koperasi sangat krusial bagi perkembangan ke depan. Artinya kekompakan dan semangat gotong royong, saling menopang satu sama lain, harus tetap dijaga. “Jangan sampai setelah dukungan dari EMCL selesai, komitmennya pudar,” tutur dia memotivasi.

Koperasi yang telah berdiri sejak 2104 tersebut kini memiliki 55 anggota perajin batik dari seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro. Selama ini koperasi sudah bisa menyuplai bahan baku dan membantu pemasaran para anggotanya. Pendirian koperasi tersebut merupakan bagian dari program pengembangan batik jonegoroan yang diprakarsai EMCL bersama LSM Ademos sejak tahun 2013.

Sementara itu ketua Koperasi, Nur Afidhatul Muawanah menjelaskan bahwa pihaknya sudah mulai mengembangkan inovasi untuk meminimalkan biaya produksi. Para perajin sudah menemukan stempel batik inovatif dari bahan daur ulang. “Penemuan ini membantu kami dalam meminimalkan biaya produksi,” ujar perajin batik asal Kecamatan Ngasem itu. Bahkan, kata dia, kini sudah banyak pesenan stempel batik dari luar Bojonegoro. (mcb)

Leave a Comment