Share

109 Santri Bojonegoro Berhenti Ikuti Upacara

Bojonegoro, 22/10 (Media Center) – Sebanyak 109 santri di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menghentikan mengikuti upacara Hari Santri Nasional di daerah setempat, disebabkan pingsan, juga mengalami sakit dan kelelahan, Sabtu (22/10).

Seorang petugas PMI Kabupaten Bojonegoro Suci Rahayu, usai upacara Hari Santri Nasional di Bojonegoro, menyebutkan, dari 109 santri itu, di antaranya, sebanyak 31 santri tidak bisa meneruskan upacara disebabkan pingsan.

Sebanyak 78 santri laki-laki dan perempuan, lanjut dia, tidak bisa melanjutkan mengikuti upacara, karena mengeluh sakit dan kelelahan.

“Empat santri yang menderita sesak napas harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sosodoro Djati Koesoemo,” jelas dia.

Menurut dia, penanganan santri yang sakit ketika mengikui upacara itu dilakukan petugas PMI dengan dibantu Puskesmas Kecamatan kota.

“Keluhan sakitnya bermacam-macam, ada yang sesak napas, sakit perut, lemas atau sakit lainnya,” paparnya.

Ia memperkirakan sebagian besar santri peserta upacara Hari Santri Nasional di daerahnya itu sakit, karena ketika berangkat menuju alun-alun dari sekolahnya dengan berjalan kaki.

“Apalagi ada santri yang berjalan kaki cukup jauh dari sekolahannya sampai alun-alun,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Bojonegoro Suyoto mengajak para santri memperkuat kompetensi spriritual, sosial, intelektual dan profesional dalam menghadapi era pertarungan ekonomi dan budaya pasar bebas.

“Dunia sungguh sedang menanti kiprah mereka (para santri) yang mampu berkarya secara profesional namun memiliki kedalaman spiritual,” jelasnya.

Ia juga mengajak para santri bertekad untuk menjadi pemain inti dalam panggung sejarah nasional, bahkan panggung sejarah dunia.

“Mari kita benar benar bebaskan diri kita dari belenggu diri yang menghalangi memahami dan memasuki panggung dunia yang lebih luas,” tuturnya.

Menurut dia, pembangunan berkelanjutan, seperti mengatasi kelaparan, kemiskinan, ketimpangan sosial, mengatasi panas bumi, dan ketidakadilan, hanya dapat diselesaikan para profesionalnyang memiliki Kesadaran spiritual dan berkiprah dalam usaha menciptakan kesejahtaraan untuk sesama.

“Inilah kiprah para santri yang ditunggu oleh bangsa dan bahkan umat manusia,” paparnya.

Ia menambahkan sudah sepatutnya para santri bangga, bahwa kiprahnya dalam sejarah merebut kemerdekaan mendapatkan pengakuan dari Pemerintah.

“Tanggal 22 Oktober dijadikan sebagai hari nasional. Belum lama juga diselenggarakan pekan olahraga santri,” tandasnya. (*/mcb)

Leave a Comment