Share

Tebu Bojonegoro Jadi Rebutan Pabrik Gula di Lamongan dan Blora

Bojonegoro, 16/8 (Media Center) – Tebu hasil panen para petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kemungkinan akan jadi rebutan. Menyusul kehadiran dua pabrik gula di Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Dalam lima bulan terakhir ini, dua pabrik gula tengah giling tebu. Pabrik gula di Lamongan, yaitu Kebun Tebu Mas (KTM) Kecamatan Ngimbang, Lamongan, tengah melaksanakan ujo coba giling (commisioning). Begitu juga dengan pabrik gula Gendis Multi Manis (GMM) di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Menurut Kacung Purwanto, petani tebu asal Lamongan, berharap pabrik gula yang beroperasi di daerahnya bisa memberi modal untuk kontrak lahan dan operasional. Alasannya, para petani, kini tengah dilanda paceklik karena pelbagai hal. Mulai dari cuaca yang labil, juga munculnya keraguan petani yang ingin menanam tebu.

“Tentu ini butuh modal,” tegasnya di Pabrik Gula KTM, Ngimbang, Lamongan, Kamis, 11 Agustus lalu.

Kemudian, lanjutnya, masa tanam tebu di atas delapan bulan, membuat petani lebih memilih sawahnya ditanami padi dan palawija. Selain itu, bekas tanaman tebu, yang harus diolah sehingga bisa subur kembali. Wajar jika petani banyak yang tidak menanam tebu.

Dengan realitas seperti itu, lanjut Kacung, petani harus diberi perangsang untuk bisa tanam tebu. Caranya, yaitu pabrik gula perlu memberikan modal. Diantaranya untuk beli bibit, pupuk, perawatan hingga panen. ”Ini salah satu cara petani agar minat bertanam tebu,” tandasnya.

Dia menyebutkan, Pemerintah Lamongan, juga telah menyediakan lahan gersang sekitar 18500 hektare untuk ditanami tebu. “Peluang sudah ada,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Kosan Makmur, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro Eko Prabowo mengatakan, perolehan keuntungan penjualan tebu ke pabrik gula di kisaran Rp64.000 hingga Rp65.000 perkwintalnya. Harga ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, yaitu Rp56.000 perkwintal. Dengan realitas itu, petani mendapat keuntungan relatif baik.

Ahli tebu, Adiq Suwandi mengatakan, gula PT KTM di Lamongan masuk kategori pabrik berkapasitas produksi nasional. Kapasitas produksinya mencapai 12000 ton perharinya dan tengah melaksanakan uji coba giling (commisioning).

Penyangga tebu perusahaan ini, di Lamongan, Gresik, Bojonegoro dan Tuban dengan lama waktu giling antara 150-180 hari. Setiap giling diperlukan tebu sebanyak 1,80 juta-2,16 juta ton.

Makanya, jika pabrik gula memberi pinjaman modal untuk lahan seluas 10.000 hektare, tentu bisa memenuhi kebutuhan tebu, setidaknya saat giling. Lahan bisa didapat dari petani di empat kabupaten itu. Yang juga penting, perusahaan juga bisa memberi kemudahan fasilitas lain. Misalnya, memberikan pupuk petani tebu, yang bahan bakunya diambil dari blotong (limbah tebu). ”Tanah diberi blotong, akan subur,” paparnya.

Direktur Operasional PT KTM Lamongan, Agus Susanto mengatakan, pihaknya tengah mengkaji usulan pinjaman modal ke petani tebu. Sebagai hitungan awal, biaya untuk operasional tanaman tebu sebesar Rp 31 juta perhektare, termasuk sewa lahan, pupuk, perawatan hingga panen. “Kita tengah mengkaji itu,” tegasnya.

Uji coba ini, akan menjadi tantangan perusahaan untuk proses selanjutnya. Misalnya, dengan lahan seluas 80 hektare—di antaranya 40 hektare untuk bangunan, sudah hampir selesai. Perusahaan juga memberi kemudahan petani, seperti pembelian dan pembayaran dilakukan dua kali dalam satu pekan dengan harga tinggi.(*/mcb)

Leave a Comment