Share

72% Tenaga Kerja Proyek Gas JTB Warga Lokal Bojonegoro

Bojonegoro, Media Center – Proyek pengembangan Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, telah menciptakan peluang kerja baru bagi warga lokal. Dari 1.634 tenaga kerja yang terlibat sekarang ini, 72,40% atau 1.183 pekerja adalah warga lokal Bojonegoro.

Sedangkan sisanya 27,60% atau 451 tenaga kerja non lokal atau dari luar Bojonegoro.

Seribuan tenaga kerja lokal Bojonegoro itu terlibat di proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Proyek Engineering, Procurement and Constructions – Gas Processing Facility/EPC-GPF) Jambaran-Tiung Biru (J-TB). Proyek ini dikerjakan Konsorsium PT Rekayasa Industri – Japan Gas Coporation Indonesia – Japan Gas Coporation (RJJ).

“Tenaga kerja lokal Bojonegoro itu baik skill, semi skill maupun non skill,” kata Site Manager RJJ, Zainal Arifin, Minggu (25/8/2019).

Prekrutan tenaga kerja lokal yang dilakukan di dasarkan pada area terdampak proyek EPC-GPF JTB. Ada sejumlah desa di lima kecamatan yang terdampak. Yakni Kecamatan Gayam meliputi Desa Mojodelik, Bonorejo, Gayam, Sudu, Katur, Ringintunggal dan Brabowan. Kecamatan Ngasem hanya satu desa yaitu Desa Bandungrejo.

Di Kecamatan Purwosari ada sembilan desa terdampak yakni Desa Pelem, Kaliombo, Purwosari, Punggur, Tinumpuk, Pojok, Sedahkidul, Tlatah dan Ngrejeng. Kecamatan Tambakrejo dan Kalitidu masing-masing satu desa yakni Dolokgede dan Sumengko.

Dari sejumlah desa tersebut yang mendapatkan porsi tenaga kerja paling banyak adalah Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, sebanyak 47%. Disusul tujuh desa di Kecamatan Gayam sebanyak 33%.

Porsi pembagian tenaga kerja ini didadasarkan beberapa faktor. Yakni proporsi aktivitas pekerjaan, akses jalan, beban karena aktivitas pekerjaan, dan dampak lingkungan.

Namun demikian, lanjut dia, PT rekind dan subkontraktornya tetap memberikan porsi bagi tenaga kerja dari lokal Bojonegoro dan luar Bojonegoro. Baik untuk tenaga skill, semiskill dan unskill.

Berdasarkan data yang dibeberkan PT Rekind, jumlah pekerja proyek EPC-GPF per Juli 2019 sebanyak 1.634 orang. Rinciannya, tenaga skill 689 orang, semiskill 393, dan unskill 552 orang.

Dari jumlah tersebut, tenaga skill didominasi pekerja dari luar Bojonegoro sebanyak 341 orang. Disusul pekerja lokal Bojonegoro 198 orang, dan Desa Mojodelik sebanyak 40 orang.

Untuk tenaga kerja semiskill didominasi pekerja lokal Bojonegoro sebanyak 193 pekerja, dari Desa Bandungrejo 57 pekerja, dan luar Bojonegoro 47 pekerja.

Sementara tenaga kerja unskill paling banyak bukan dari Desa terdampak langsung (Bandungrejo). Melainkan dari lokal Bojonegoro sebanyak 146 orang, dan 117 orang dari Desa Bandungrejo, serta 78 pekerja dari Desa Mojodelik.

“Jumlah ini terus berubah menyesuaikan aktivitas proyek yang sedang berlangsung,” pungkas Zainal.

Mega proyek yang dikendalikan Pertamina EP Cepu ini akan menyerap sedikitnya 6.000 tenaga kerja pada puncak konstruksi.

Selain menyerap banyak tenaga kerja, Proyek EPC-GPF JTB juga telah membuka peluang usaha bagi kontraktor lokal. Tercatat, hingga saat ini sudah ada vendor Bojonegoro yang ikut mengerjakan proyek tersebut.

“Dengan pelibatan kontraktor lokal secara otomatis akan banyak warga lokal terlibat sebagai tenaga kerja,” sambung Jumadi, juru bicara PT SMBA asal Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem.

Leave a Comment