Share

9 Ton/ha, Padi Tahan Banjir di Bojonegoro Masuk Masa Panen

Disperta Bojonegoro mulai mengembangkan padi Inpari 30 di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Padi hasil penyilangan jenis chierang dan subone yang tahan terhadap genangan air selama 15 hari sampai 20 hari.

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro mulai mengembangkan padi Inpari 30 di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Padi hasil penyilangan jenis chierang dan subone produksi BPTP Sukamandi, Jawa Barat, itu tahan terhadap genangan air selama 15 hari sampai 20 hari.

Saat ini, padi Inpari 30 itu baru dikembangkan di lahan seluas 5 hektar (ha) di Kecamatan Kanor sebagai percontohan. Rencananya padi Inpari itu akan dilakukan panen oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto.

“Padi ini cocok untuk daerah banjir karena tahan terhadap genangan air. Meskipun terendam sampai 20 hari tidak apa-apa,” kata Kepala Disperta Bojonegoro, Akhmad Jupari di ruang kerjanya. Diperkirakan hasil produksinya bisa mencapai 9 ton per hektar.

“Melihat hasilnya cukup bagus, kita akan kembangkan di sepanjang DAS Bengawan Solo,” tegas mantan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Dishutbun) Bojonegoro itu.

Disamping mengembangkan padi Inpari 30, Disperta juga tengah mengembangkan padi Inpari 19 untuk tadah hujan. Keunggulan dari padi Inpari 19 itu adalah tidak banyak membutuhkan air dan masa panen lebih cepat sepuluh hari ketimbang jenis padi lainnya.

“Jika padi biasa 90 hari, tapi kalau Inpari 19 hanya 80 hari sudah panen,” tandas Djupari. Ia menambahkan, pengembangan dua jenis padi itu merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan negeri.

Sebab baik lahan pertanian di sepanjang DAS Solo sering dilanda banjir dan lahan tadah hujan kekurangan air, namun masih tetap produksi. “Dengan begitu produksi pangan tetap terjaga dan terus meningkat,” pungkasnya. (*/numcb)

Leave a Comment