Share

Ada 24 Home Stay di Desa Wisata, Jono Temayang

Bojonegoro (Media Center) – Meski berada di tepian hutan, yang jauh dari keramaian. Namun tak lantas menjadi terpinggirkan bagi Desa Jono Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Betapa tidak, desa yang dikenal dengan penghasil kayu jati itu, sejak 2010 lalu telah dinobatkan menjadi Desa Wisata Budaya oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.

Tak berlebihan, jika predikat tersebut disandang oleh desa yang menjadi pintu gerbang di bagian selatan. Lantaran disanalah tradisi seni budaya lokal “sindir jonegoroan’ masih terasa kental dan tetap dilestarikan. Seni Tayuban, Nyadran dan semua yang berbau budaya lokal seakan menjadi nadi kehidupan mayoritas warga desa yang dikenal ramah dan bersahaja.

Di desa itu lahir puluhan waranggana alias sinden tayub kondang, sebut saja Nyi Tegowati, Nyi Rasmi, Nyi Wariyati dan Nyi Hartini. Kemunculan mereka sebagai bukti kegigihan warga dalam melestarikan seni budaya.

Guna melengkapi predikat desa wisata yang disandangnya, Home Stay untuk tamu wisata juga dipersiapkan oleh Pemdes setempat. Sementara ini, Pemerintah Desa (Pemdes) setempat mempersilahkan kepada semua warga untuk memfungsikan rumahnya sebagai tempat menginap para pengunjung, tentu dengan persyaratan harus memadai dan mengikuti aturan yang di terapkan Pemdes.

“Kami juga menyiapkan Home stay di rumah-rumah warga, dengan standar tertentu. Hal ini untuk menjaga ketertiban lingkungan dan kenyamanan tamu,” kata Kepala Desa Jono, Dasuki. Suyoto, salah satu warga mengaku sangat senang dan bangga rumahnya bisa menjadi tempat menginap tamu wisata. Sudah puluhan tamu dari luar kota, seperti Malang, Jombang, Mojokerto, Jakarta bahkan Australia pernah menginap di rumahnya.

“Kami sekeluarga senang dan bangga rumah kami di pakai menginap tamu wisata. Orang Australia juga nginep disini saat Kongres Sastra Jawa tahun lalu,“ ujarnya. Masih ada 24 warga lain yang rumahnya siap ditempati menginap tamu wisata kapan saja, dengan catatan harus mendapat rekom dari Pemdes setempat.“Itu untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan,“ imbuh Suyoto.

Ditanya berapa tarif menginap, beberapa warga yang rumahnya dijadikan Home Stay menjawab seragam, yakni tidak ada tarif yang dipatok untuk menginap. ”Kami tak mematok tarif untuk menginap. Bagi kami, tamu mau menginap di sini saja sudah matur nuwun. Tapi fasilitasnya ya sederhana seperti ini,“ terang Murni, yang rumahnya telah mendapat rekomendasi sebagi home stay.

Guru SD itu menambahkan, kehadiran para tamu tersebut diharapkan mampu menambah ilmu pengetahuan. “Dan yang terpenting menambah seduluran,“ imbuhnya. Warga lainnya, Warti, merasa bangga dengan desanya kini sudah menjadi desa wisata yang banyak dikunjungi tamu. Baginya yang membanggakan selama rumahnya digunakan Home Stay adalah saat mendapat tamu dari Jakarta. “Alhamdulillah, saya bisa kenal banyak orang dari kota. Saya juga pernah mendapat cinderamata dari orang Jakarta yang menginap,“ ungkapnya.

Tak hanya itu, untuk melengkapi sarana dan prasarana fisik sebagai kawasan wisata budaya, telah dibangun Sasana Sanggar Budaya (SSB) Anugerah, yang menjadi salah satu dari beberapa wadah berkumpul para seniman untuk bersilaturrahmi.

“Selain itu juga digunakan sebagai sekretariat,“ kata Dasuki. Pecinta seni tradisional itu menyebut puluhan kegiatan bernuansa tradisional telah digelar di SSB. Di tempat itu, setiap seminggu sekali selalu diramaikan oleh anak-anak yang berlatih karawitan. Bahkan, beberapa event kebudayaan tingkat nasional sudah beberapa kali dilaksanakan.

“Sudah puluhan kali disini pagelaran seni budaya, baik tingkat daerah maupun nasional. Kongres Sastra Jawa III tahun 2011 dengan peserta dari luar kota dan luar negeri, juga terselenggara sukses tanpa hambatan,“ papar Dasuki. Disebutkan nama Budayawan Arswendo Atmowiloto, yang datang dalam acara tersebut. (ramcb)

1 Comment on this Post

  1. semoga selanjutnya giliran waduk pacal yang dilengkapi home stay, dan camping ground insyaAllah bisa jadi sarana rekreasi bagi keluarga dan masyarakat

    Reply

Leave a Comment