Share

Alam Kedung Maor Bojonegoro Yang Mulai Populer

Bojonegoro (Media Center) – Suasana tenang dengan sedikit sengatan cahaya matahari pagi menyambut tim kanalbojonegoro.com saat tiba di lokasi wisata alam Kedung Maor yang terletak di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tampak ada dua buah warung sederhana menjual berbagai minuman dan kopi yang dibangun dari sesek atau anyaman bambu dengan atap damen (batang padi). Tampak pula bangunan tanpa dinding yang menjadi penitipan sepeda motor para pengunjung tak jauh dari jalan setapak menuju objek wisata utama di arena Kedung Maor.

Untuk menuju ke lokasi kedung, pengunjung harus melewati turunan. Jika musim hujan tiba, bisa dipastikan jalan ini cukup sulit dilalui karena licin.

Sekitar 100 meter dari pintu masuk, tampak susunan batuan yang membentuk sungai. Sayangnya, saat musim kemarau seperti saat ini, sungai nyaris mengering. Hanya tersisa sedikit air yang mengalir dari Sungai Pacal yang ditampung kedung yang berada tepat di bawah sungai.

Meski mengering, struktur batuan padat yang terdapat di area wisata Kedung Maor ini memiliki pesona tersendiri. Bahkan, banyak pengunjung yang memanfaatkan spot yang biasanya terisi air saat musim hujan sebagai lokasi berfoto dengan latar belakang hutan dan kedung yang berwarna kehijauan.

DSC_5183

Lokasi Kedung Maor, yang berada di tengah kawasan hutan jati masuk Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro itu, menjadi obyek wisata alam, secara alamiah, karena lokasinya yang indah.

Untuk menuju ke kedung yang berada di bawah, pengunjung harus menyisir tepian tebing yang berupa jalan setapak. Setelah itu, menuruni tangga darurat yang terbuat dari kayu serta akar-akar pohon.

DSC_5191
Tangga menuju kedung

Setibanya di bawah, alam menyuguhkan pemandangan yang cukup indah. Kedung yang dikelilingi batuan serta air yang tenang membuat pengunjung betah hanya dengan duduk santai atau bermain air. Namun, jika tak pandai berenang, lebih baik menghindari berenang di kedung lantaran memiliki kedalaman hingga 7 meter.

“Kalau musim hujan pemandangannya sangat indah, ada beberapa air terjun yang mengelilingi kedung,” jelas Dita, salah satu pengunjung yang mengaku sering berwisata ke Kedung Maor.

Tidak hanya dikunjungi wisatawan domestik (wisdom), pengunjung terutama remaja memanfaatkan lokasi Kedung Maor, untuk berkemah. Seperti yang dilakukan puluhan anggota grup pecinta alam daerah setempat, yang menginap serta melakukan upacara pengibaran bendera memperingati HUT-RI yang ke-70 pada 17 Agustus lalu.

DSC_5256
“Kedung Maor mulai dikunjungi banyak orang sejak setahun lalu,” ujar Hari salah satu penjaga parkir di Kedung Maor.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan KPH Bojonegoro, belumlah menjadikan Kedung Maor, sebagai obyek wisata yang representatif, sehingga lokasi setempat belum tersentuh dengan tambahan prasarana dan sarana wisata. Papan pengumuman masuk lokasi, juga hanya sekedarnya terbuat dari papan dengan tulisan Wisata Alam Kedung Maor, yang dilengkapi dengan gambar danau.

“Kami dari  Karang Taruna Desa Kedung Maor, atas persetujuan Kepala Desa (Kades) Kedungsumber, kemudian membuka lahan parkir, agar pengunjung bisa tertib,” katanya.

Menurut dia, pengunjung Kedung Maor tidak dikenakan karcis tanda masuk, tapi dikenakan biaya parkir untuk kendaraan roda dua Rp5.000/kendaraan dan roda empat Rp10.000/kendaraan.

“Pengunjungnya banyak, selain lokal juga ada yang dari luar kota, seperti dari Gresik dan Surabaya,” ucapnya.

Ia menyebutkan jumlah pengunjung bisa mencapai 500 pengunjung, pada hari libur Minggu.

“Kalau Hari Raya Idul Fitri yang lalu, ya pengunjungnya penuh. Pengunjung datang ya hanya duduk-duduk melihat air dan tebing Kedung Maor,” ucapnya.
DSC_5242
Mencapai Kedung Maor, yang jaraknya sekitar 32 kilometer dari Kota Bojonegoro, tidaklah sulit. Meskipun jalanan menuju lokasi dari jalan raya Bojonegoro-Nganjuk, masih berupa makadam, tapi jalannya cukup lebar.

Ketua Dewan Kepurbakalaan Bojonegoro Ali Sya’faat, menjelaskan berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ahli Geologi dari Bandung bahwa tebing di sungai Kedung Maor, terdapat binatang laut, semacam kerang-kerangan.

“Kesimpulan ahli geologi lokasi Kedung Maor dulunya laut dalam, sehingga layak dijadikan obyek wisata alam,” ucapnya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Pelestarian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Suyanto, menjelaskan Kedung Maor, merupakan salah satu obyek wisata yang akan dikembangkan di daerahnya.

“Tapi pengembangan Kedung Maor dilakukan bekerja sama dengan UPN Veteran Yogyakarta, yang menangani Bojonegoro, sebagai wisata alam “geoheritage”,” jelas dia.(sa/lya/*mcb)

Leave a Comment