Share

Bank Sampah Jadi Harapan Baru Warga Campurrejo

Bojonegoro (Media Center) – Teriknya matahari di pancaroba dari musim hujan ke kemarau menjadi berkah tersendiri bagi Prianto (47), salah satu pekerja di Bank Sampah Campurrejo (BSC) yang letaknya bersebelahan dengan Balai Desa Cempurrejo.
Bapak dua orang putri ini mulai menggeluti profesi penggunting botol dan gelas plastik sejak BSC didirikan pada Januari lalu. Sebelumnya, warga Dusun Plosolanang, Desa Campurrejo, Bojonegoro ini menggantungkan hidup dari hasil menjadi buruh tani.
Disela kegiatannya membersihkan gelas plastik, pria berkumis ini menuturkan pendapatannya di bank sampah tak jauh berbeda dengan saat menjadi buruh tani. Namun, saat mendekati kemarau, tenaganya tak dibutuhkan lantaran tak ada tanah yang akan digarap.
“Kalau dulu ketigo ya nganggur, kerja apa saja,” ceritanya pada kanalbojonegoro.com, Rabu (1/6).
Dengan dibentuknya bank sampah, kini ia bisa menggantungkan kehidupan keluarga dan anak-anaknya dari pekerjaan sampingan yang kini digelutinya dengan bangga. “Pekerjaan yang saya lakukan ini sangat positif. Tidak hanya menambah tabungan di rumah, tapi juga membuat lingkungan sekitar bersih,” lanjut pria berpostur sedang ini.
Setiap kilogram gelas plastik yang ia sortir, ia mendapat upah Rp1.000. Dalam sehari, ia mengaku bisa menyortir hingga 50 kilogram limbah gelas plastik. Upah yang menurutnya sepadan dengan penghasilannya saat menjadi buruh tani di musim tanam.
Dari penghasilannya inilah, Rianto berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Tentu juga dibantu sang istri yang turut membantu kebun bibit tanaman buah bentukan dari Joint Operating Body (JOB) Pertamina – Petrochina East Java (P-PEJ).
“Anak saya yang pertama sekarang kuliah di Poltekkes Surabaya, ambil jurusan Elektromedis,” ujarnya dengan bangga.
Tak hanya menjadi tenaga penyortir dan penggunting di bank sampah, Rianto juga mengumpulkan dan memilah sampah yang setiap minggunya diambil petugas bank sampah. Ia memilih menukarkan sampahnya dengan tabungan yang rencananya akan dicairkan menjelang lebaran nanti.
“Nanti tabungannya untuk lebaran. Tenang sudah ada tabungan,” imbuhnya.
Berbeda dengan Rianto, Muhammad Sobar memilih menguangkan sebagian sampah yang dikumpulkannya. Hal ini lantaran a hanya bisa mengumpulkan sampah kantong plastik dan sampah lainnya yang harganya tak terlalu tinggi. Alasannya, minuman gelas biasanya dikonsumsi orang dari golongan menengah keatas.
“Saya kan orang kecil, sampahnya diuangkan juga untuk kebutuhan sehari-hari,” terang pria berpostur tinggi ini.
Ia yang juga bekerja di bank sampah ini memutuskan ingin menekuni pekerjaanya saat ini. Menurutnya, prospek bank sampah yang dikelola oleh warga ini sangat baik. Hanya saja, ia menyayangkan tak adanya dukungan yang berarti dari pemkab Bojonegoro.
Besar keinginannya agar pemkab turut campur tangan dengan kegiatan bank sampah. Salah satunya dengan bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan setempat untuk mengoordinir sampah degan wilayah yang lebih luas.
“Kelihatan sekali dampak positifnya. Lingkungan semakin bersih, pendapatan warga bertambah dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang-rang seperti saya,” tutup pria yang sebelumnya kuli bangunan ini.(mcb)

Leave a Comment