Share

Batik Jonegoroan-China Akan Tampil di Ajang “Qipao Pageant” 2018 Singapura

Yogyakarta, 26/5 (Media Center) – Desainer Jakarta Martini Suarsa mengatakan batik Jonegoroan Bojonegoro, Jawa Timur, akan tampil diperagakan peragawati China dalam ajang “Qipao Pageant” 2018 di Singapura, pada Oktober.

“Kegiatan Qipao Pageant 2018 yang akan berlangsung sepekan merupakan kolaborasi budaya Indonesia yang diwakili Bojonegoro dengan batik Jonegoroan yang akan diperagakan peragawati asal China, ” kata dia di Yogyakarta, pekan lalu.

Martini Suarsa, yang juga sebagai pemilik “House Of Martini Suarsa”, didampingi “Fouder Blue And White Internasional” (BWI), Ada Goh, menyebutkan ada tujuh peragawati China dan dua peragawai Singapore yang akan terlibat memperagakan pakaian

“Prinsip peragaan pakaian dengan batik Jonegoroan dan peragawati China itu merupakan perpaduan budaya dua negara. Jadi tidak ajang kecantikan, tapi ajang budaya,” kata dia menegaskan.

Sebelum itu, batik Jonegoroan juga ditampilkan peragawati asal China dan Bojonegoro di Beijing China pada 16 Mei.

Ada empat motif batik Jonegoroan yang ditampilkan yaitu motif Surya salak Kartika, Pari Sumilak, Rancak Thengul dan Sekar Rosela, produksi Marely Jaya mengikuti peragaan batik bersama sejumlah negara di Beijing, China.

Peragaan batik di Beijing tiga hari itu diselenggarakan “United Nation Association Of Asian Culture Artist” dalam acara “The 21th Beijing Internasional Science and Technology Expo”. Pesertanya selain Indonesia (Bojonegoro) juga China, Sri Lanka, Singapura, India, Vietnam.

Dalam peragaan juga melibatkan tiga modeling asal Bojonegoro yaitu Regina Aprillya Febrianda (duta wisata Bojonegoro 2018), Regita Wardani (Putra Putri Batik Bojonegoro 2018) dan Alma Alyzia Yasmin (Putra Putri Batik Bojonegoro 2018).

“Mereka menampilkan karya busana berbahan batik Bojonegoro dan “Painting” Bojonegoro karya Zahida dari ‘MS Collection’,” kata dia, menjelaskan.

Namun, baik Martini Suarsa dan Ada Goh mengkui bahwa kegiatan yang dilakukan untuk memperkenalkan batik Jonegoroan di kancah Internasional, tidak lepas dari bisnis.

“Perpaduan budaya Bojonegoro-China ini ke depan juga bisnis,” ucap Ada Goh.

“Apalagi sekarang masuk era MEA,” kata Martini menambahkan.

Ia mengibaratkan langkah yang dilakukan itu hanyalah membukakan pintu bagi industri batik di Bojonegoro juga daerah lainnya di Indonesia untuk masuk di pasar Internasional.

Pada kesempatan itu di Yogyakarta, Kepala Disbudpar Bojonegoro Amir Syahid, mewakili pemerintah kabupaten (pemkab) menandatangani nota kesepahaman dengan “Blue White Internasional” (BWI) dan House of Martini Suarsa, untuk mengembangkan batik Jonegoroan di kancah dunia. (*/mcb)

Leave a Comment