Share

Belimbing Buah Termanis Festival Bengawan Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – Sengatan matahari yang panas di lokasi Bendung Gerak Bengawan Solo di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (20/9), tak membuat bergeming Ny. Tatik (55).

Ia warga Jakarta, yang masa kecilnya hidup di Bojonegoro itu, dengan santai bersama seorang rekannya duduk di kursi di tempat agak teduh, di tengah ribuan pengunjung yang datang untuk menyaksikan berbagai kegiatan Festival Bengawan, seperti perahu hias, juga lainnya.

“Saya mengatasi haus dengan makan belimbing sedikit-sedikit. Lumayan hausnya terobati, apalagi rasanya manis sekali,” kata Yatik, dalam perbincangan dengan kanalbojonegoro.com.

Dalam memakan buah belimbing itu, Tatik tidaklah sendirian, sebab banyak pengunjung juga ikut menikmati buah belimbing dari lokasi agrowisata kebun belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.

Di agrowisata yang terpilih sebagai wisata buatan terbaik se-Jawa Timur itu, sebelumnya digelar festival Belimbing, dengan agenda utama rebutan tumpeng 1 ton belimbing.

Di lokasi agrowisata kebun belimbing yang jaraknya tidak jauh dengan Bendung Gerak itu, pengunjung yang datang juga bisa membeli buah belimbing di puluhan pedagang di sekitar agro wisata.

“Saat ini harga belimbing kulitas terbagus rata-rata Rp9.000/kilogram,” ucap seorang petani belimbing Supangat.

Dalam festival belimbing, yang diikuti 104 petani belimbing itu, akhirnya belimbing Supangat dengan berat 6 ons keluar sebagai juara I.

“Rasanya manis sekali, sebab kemarau tahun ini kering. Tapi soal bobotnya masih kalah dibandingkan pemenang tahun lalu yang bisa mencapai 8 ons,” jelas seorang juri festival belimbing dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Slamet.

Penilaian juri dalam festival belimbing, kata Supangat, meliputi berat belimbing, tekstur, rasa, juga  faktor yang lainnya.

Sebagaimana juga dijelaskan Kepala Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro Moch. Syafii, festival belimbing tidak hanya diiisi dengan kontes belimbing, tapi juga berbagai kegiatan lainnya selama sebulan.

“Festival belimbing tahun ini tidak hanya sehari, tapi sebulan berakhir 11 Oktober,” jelas dia.

Berbagai kegiatan dalam festival belimbing di desa setempat, katanya, selain kontes belimbing, juga wayang kulit, campur sari, basar murah, jalan santai dan berbagai kegiatan lainnya.

Ditanya omzet belimbing di desanya bersamaan dengan Festival Bengawan, ia mengaku masih menghitung.

“Saya sudah memerintahkan kepada perangkat desa untuk menghitung omzet petani belimbing ketika festival belimbing, baik pembeli yang memetik langsung atau membeli kepada pedagang,” ucapnya.

Namun, menurut dia, Omzet belimbing tertinggi di desanya yaitu ketika tahun baru lalu dengan jumlah bisa mencapai Rp72 juta/hari.

Pada kesempatan festival belimbing, Wakil Bupati Bojonegoro Setyo Hartono meminta masyarakat di desa lainnya juga ikut mengembangkan tanaman belimbing yang terbukti mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Saya kira warga desa lainnya bisa menanam belimbing, sebab jenis tanahnya di bantaran Bengawan Solo ini sama,” ucapnya.

Sesuai data, di Desa Ngringinrejo, terdapat tanaman belimbing seluas 20,4 hektare dengan jumlah 9.604 pohon dan di Desa Mojo seluas 17 hektare. Rata-rata produksinya berkisar 40-50 kilogram per pohon sekali panen, dengan waktu panen tiga kali dalam setahun.

Usai memberangkatkan perahu hias dalam Festival Bengawan di lokasi Bendung Gerak Bengawan Solo, Bupati Bojonegoro Suyoto, menyatakan pelaksanaan Festival Bengawan perlu diperpanjang tidak hanya sehari, tapi bisa tiga hari.

“Kalau hanya sehari jadwalnya terlalu padat, sebab banyak berbagai kegiatan seni dan budaya yang menarik masyarakat,” katanya, menegaskan. (sa/mcb)

Leave a Comment