Share

Belum Ada Keterlibatan Operator Dalam Pemberdayaan Perempuan

Pelaksanakan 3 pilar kependudukan dan keluarga berencana, belum ada keterlibatan dari pihak operator migas, termasuk di sekitar Ring 1 pengeboran. Hal itu disampaikan Anik Yuliarsih, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana ( BP2KB) Bojonegoro.

Bojonegoro (Media Center) – Pelaksanakan 3 pilar kependudukan dan keluarga berencana, belum ada keterlibatan dari pihak operator migas, termasuk di sekitar Ring 1 pengeboran. Hal itu disampaikan Anik Yuliarsih, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana ( BP2KB) Bojonegoro.

“Dalam upaya penekanan laju penduduk, sebenarnya operator bisa membantu kami dengan membagikan alat kontrasepsi secara gratis, terutama di Ring 1 Lapangan Bayuurip Blok Cepu. Agar wanita di sekitar ladang migas dapat mengatur kelahiran dan tidak memiliki terlalu banyak anak,” jelas Anik Yuliarsih.

Dia menegaskan, meskipun memasuki era industri migas namun kebudayaan untuk memiliki banyak anak masih ada, seperti kepercayaan jika banyak anak banyak rejeki. Sehingga, BP2KB selalu gencar mensosialisasikan dua anak cukup.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan itu menyebutkan, ada kabar mengejutkan dari beberapa staf di Kecamatan Gayam yang menyatakan ada wanita yang berpoliandri dan remaja putri yang menjual diri.

Hal ini, lanjut dia, salah satu penyebab bergesernya budaya tradisional ke modern, sehingga memprihatinkan bagi institusinya. Meskipun begitu bukan ranah BP2KB untuk menangani masalah tersebut.

“Yang jelas, kami hanya mencatat adanya pernikahan yang sah, bukan pernikahan siri yang santer terdengar di Blok Cepu,” tegasnya.

BP2KB selama ini melakukan sosialisasi KB bagi pasangan yang baru menikah dan pasutri yang baru memiliki anak satu. Sementara di lingkungan desa termasuk sekitar proyek migas membuka pusat informasi dan konseling remaja yang duduk di bangku SLTP maupun SLTA.

“Tujuannya untuk membimbing para remaja yang masih labil khususnya dalam hal persiapan berkeluarga, bagaimana caranya menjaga kehormatan sebelum menikah, lalu bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik dan lain sebagainya,” tegasnya.

Pihaknya berharap, kaum wanita khususnya di sekitar ladang migas dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat. Serta tidak mudah terpengaruh pergeseran budaya yang disebabkan adanya mega proyek Banyu Urip dan proyek migas lainnya. (re/*acw)

Leave a Comment