Share

Berburu Artefak Bojonegoro Di Museum Tropen Belanda (2): Ada Thengul “Marmoyo” Di Tropen Oleh Novel Zain Wisuda

Bojonegoro (Media Center) – Museum Tropen di Amsterdam, yang terdiri dari empat lantai, boleh dibilang menjadi sasaran yang akan saya kunjungi, selain harus mengikuti kuliah di “Kolonial Institut” (KIT) Amsterdam, Belanda.

Di tengah-tengah mengikuti pelatihan dengan mata kuliah, “Human Resources for Health”, untuk kedua kalinya saya mendatangi Museum Tropen, pada 3 maret lalu.

Berbeda dengan yang pertama kali saya masuk lokasi Museum Tropen, dengan waktu yang terbatas. Tapi, kali saya bisa lebih leluasa mengamati berbagai macam artefak yang dipamerkan di gedung museum lantai satu, yang memiliki ukuran 100X50 meter itu.

Di lantai satu itulah berbagai artefak dari berbagai negara Hindia Belanda (jajahan Belanda), antara lain, negara-negara di Asia Tenggara, Papua, juga Indonesia.

Di bagian lantai dua berisi artefak dari negara di Afrika dan Amerika Latin, dan di lantai empat, saya kurang tahu pasti apa saja isinya. Sedangkan di lantai paling bawah menjadi tempat pendaftaran bagi pengunjung.

Dalam kunjungan yang kedua ini, saya sedikit beruntung, karena bisa menjumpai artefak wayang Thengul, dan sejumlah artefak wayang kulit.

Kali ini, saya lebih memfokuskan mengamati dan mencermati artefak yang berada di lantai satu, karena semua artefak dari Tanah Air, berada di lokasi itu.

Meskipun saya juga mengambil berbagai gambar berbagai artefak dari Tanah Air, saya tertarik dengan salah satu artefak asal Yogyakarta, berupa dua wayang thengul. Dalam keterangan di dalam artefak dua wayang thengul yang dipamerkan dalam Bahasa Inggris disebutkan buatan akhir abad 20.

Ketertarikan mengamati artefak dua tokoh Wayang Thengul itu, karena selama ini Wayang Thengul, menjadi kebanggaan warga Bojonegoro, bahkan, dianggap sebagai kesenian khas daerah setempat.

Siapakah tokoh wayang thengul itu? Untuk itu, saya terpaksa mengirimkan foto wayang thengul itu, kepada keluarga di Bojonegoro, jawa Timur, untuk dikonfirmasikan kepada ahlinya.

“Betul ini tokoh Wayang Thengul Marmoyo,” jelas Kepala Bidang Pengembangan Bidang Usaha Seni dan Budaya Disbudpar Bojonegoro Imam WS., di Bojonegoro.

Sesuai kaidah bahasa yang tepat sebenarnya nama tokoh wayang Thengul itu, yaitu Umar Moyo. Namun, sebagaimana kebiasaan logat warga Bojonegoro, bahkan juga dalang selalu menyebut di setiap pementasan tokoh yang satu ini dengan nama Marmoyo.

“Ketokohan Marmoyo, seperti seniman atau budayawan, juga pandai mengobati,” jelas dia.

Artefak Marmoyo itu, menaiki sebuah kuda, sedang di belakangnya sebuah tokoh Wayang Thengul dengan wajah merah, dari Belanda. Ini berarti memberikan gambaran perlawanan seniman di era penjajahan dengan caranya sendiri yaitu, memberikan gambaran peperangan yang terjadi dengan tokoh wayaang Thengul.

Sebagaimana kita ketahui di Museum Tropen ini, banyak ribuan cerita, karya menarik dari seni dan benda-benda menarik membawa budaya yang berbeda untuk hidup. Di Museum Tropis, kita bisa melakukan perjalanan melalui dunia dan melalui waktu dengan melihat artefak yang dipamerkan.

KIT dalam bahasa inggris “The Royal Tropical Institute” berdiri, pada 1864. Didirikan oleh Colonial Museum di kota Harleem, dengan tujuan untuk pengembangan ilmu dan pendidikan. Semula, KIT berisi koleksi artefak budaya dan antropologi dari wilayah Hindia Belanda. (*/mcb)

Leave a Comment