Share

Berburu Artefak Bojonegoro Di Museum Tropen Belanda (3): Srikandi Dari Negara Tropis Oleh Nove Zain Wisuda

Bojonegoro (Media Center) – Ketika perjalanan dari Hotel “The Student” Hotel Amsterdam, menuju “Kolonial Institut” (KIT), mata saya tertuju pada sebuah poster Raden Ajeng (RA)  Ibu Kartini, yang mengenakan kebaya berada di tepi jalan.

Serta merta saya mengambil kamera untuk mengambil gambar Ibu Kartini yang berada di sebuah bangunan, semacam hall. Sayangnya, ketika saya mengambil gambar lokasi setempat sepi, di sebalah pojok kanan ada sejumlah sepeda kayuh yang menjadi khas transportasi di negara kincir angin.

Kali ini, setelah “ngubek-ngubek” Artefak Tanah Air di Museum Tropen dan mengikuti kuliah “Human Resources for Health”, di KIT, karena penasaran saya kembali ke lokasi poster Ibu Kartini di tepi jalan itu, masih di Amsterdam, pekan lalu.

Dalam sejarahnya dulu bahwa Museum Tropen adalah sebuah museum yang menjadi pusat penampungan artefak dari negara jajahan Belanda, yang kemudian berkembang menjadi pusat penelitian berbagai penyakit dari negara-negara tropis, yang menjadi wilayah jajahan Belanda.

Perjalanan saya dari “The student” Hotel Amsterdam, harus naik tram dengan jarak perjalanan sekitar 7 kilomter, dengan membayar 1,5 euro atau sekitar Rp23.000 sekali perjalanan.

Bagi seorang seorang Mahasiswa KIT seperti saya biaya naik tram cukup lumayan besar, sebab kalau dibandingkan dengan naik bus Bojonegoro-Surabaya, dengan jarak sekitar 100 kilomter, cuma sekitar Rp20 ribu.

Tapi bagi saya tidak menjadi masalah, sebab bisa menutupi kepenasaran, sekaligus ingin mengetahui seluk beluk keberadaan poster Ibu Kartini itu.

Sesampai di lokasi poster saya ketahui bahwa poster Ibu Kartini memiliki panjang 1,7 meter, dengan lebar sekitar 1,2 meter, berdiri di atas tanah dengan posisi disangga dengan ketinggian  kurang lebih 2,5 meter.

Poster Ibu Kartini di lokasi setempat diberi judul “Heldin Van De Tropen. Setelah saya mencoba memahami judul poster dalam Bahasa Belanda itu, saya ketahui terjemahannya yaitu “Srikandi dari Negara Tropis”.

Di dalam poster Ibu Kartini juga dilengkapi dengan sejarah singkatnya, yang terjemahan bebasnya yaitu, kartini pejuang perempuan untuk kesetaraan pendidikan.

Tidak hanya itu, selama dua hari saya “ngubek-ngubek” Museum Tropen, juga memperoleh informasi ternyata nama Kartini, juga dimanfaatkan sebagai tempat bermain anak-anak, dengan nama Kartini Wing, yang lokasinya di lantai bawah Museum Tropen.

Sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan berada di bawah poster Ibu Kartini, untuk berselfie ria, mumpung berada di Belanda. Paling tidak nantinya bisa saya manfaatkan sebagai kenang-kenangan yang bisa saya ceritakan kepada kerabat di Tanah Air.

Sepulang dari lokasi poster Ibu Kartini itu sayapun menjadi teringat kisah keberadaan sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) dengan nama Kartini, di dekat rumah kediaman almarhum kakek di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Cuma sekarang sudah tidak jelas keberadaannya, karena seingat saya di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, bahkan mungkin juga di Bojonegoro, sudah tidak ada lagi nama TK Kartini.

Di Belanda, anak-anak mulai dikenalkan dengan Ibu Kartini, sebagai Srikandi dari negara Tropis, sebaliknya di Tanah Air, di negara tropis ini, banyak anak-anak kita, bahkan ibu-ibu, yang mengandrungi artis Bolywood, juga artis lainnya. (bersambung)

Leave a Comment