Share

Berburu Artefak Bojonegoro di Museum Tropen Belanda (4-habis): “Memindahkan” Museum Tropen ke Tanah Air

Amsterdam (Media Center) – Ada keingginan yang sulit terpenuhi selama saya di Amasterdam Belanda, yaitu “memindahkan” Museum Tropen, ke Tanah Air, melalui foto-foto digital berbagai artefak Tanah Air yang tersimpan di museum setempat.

Namun, keingginan itu hanyalah tinggal keingginan, sebab sangat mustahil memindahkan artefak yang terpajang di lantai satu Museum Tropen, yang jumlahnya demikian banyak.

Apalagi, mengambil gambar artefak asal Bojonegoro, yang tersimpan di depo (lantai dasar) yang tidak terbuka untuk umum.

Niatan mengambil gambar artefak asal Bojonegoro, di depo terpaksa saya batalkan, karena tentu saya harus melalui prosedur yang memakan waktu lama, karena depo tidak terbuka untuk umum.
Apalagi jadwal mengikuti pelatihan “Human Resources for Health”, di “Kolonial Institut” (KIT) Amsterdam, Belanda, sejak 27 Februari berakhir 11 Maret.

Kegiatan mengambil gambar artefak di Museum Tropen, hanya saya lakukan dua kali, dengan pertimbangan karcis masuk museum tergolong lumayan mahal yaitu 9 euro atau sekitar Rp150.000.

Padahal, saya sudah memperoleh potongan, karena saya menunjukkan kartu Mahasiswa KIT, sebab kalau umum karcis masuk ke museum sebesar 15 Euro atau Rp230 ribu lebih.

Di sela-sela waktu luang mengikuti kuliah itulah yang saya manfaatkan untuk mengunjungi Museum Tropen, untuk mengambil berbagai artefak dari di Tanah Air.

Seratusan lebih artefak dari Tanah Air yang saya ambil gambarnya, mulai buku asli Raden Ajeng (RA) Kartini, dengan judul Bahasa Belanda, sampai sabak atau tempat menulis di era zaman dulu di Tanah Air.

Sebagimana sebelumnya saya laporkan bahwa poster RA Kartini juga terpajang di tempat umum semacam hall dengan sebutan “Heldin Van De Tropen” atau Srikandi dari negara tropis dan nama RA Kartini, dimanfaatkan sebagai tempat bermain anak-anak di Museum Tropen dengan nama “Kartini Wing”.

Dalam kegiatan mengambil gambar artefak Tanah Air itu, saya tetap berusaha mengambil artefak yang berbau Bojonegoro, seperti Wayang Thengul, Wayang Krucil, Wayang Kulit, “rampok” atau semacam gunungan di dalam pergelaran Wayang Kulit, berbagai aneka artefak kayu asal Tanah Air, termasuk kayu jati.

Di artefak Wayang Kulit, ternyata bukan kisah Pandawa dan Kurawa, tetapi Wayang Kulit yang mengambarkan peperangan di zaman pemberontakan Pangeran Diponegoro melawan Kolonial Belanda.

Sesuai keterangan di dalam artefak itu di sebelah kiri Wayang Kulit ternyata tokoh Jenderal Decok, didampingi tentara Belanda. Di sebalah kanan, Wayang Kulit tokoh Pangeran Diponegoro, didampingi Sentot dan Kyai Mojo. Uniknya di tengah-tengahnya ada Wayang Thengul, yang disebutkan Tentara Afrika.

Di lokasi lain saya juga mengamati baju koko asli Teuku Umar warna hitam, lengkap dengan kopiah atau peci warna putih. Sesuai keterangan di dalam artefak itu, disebutkan Teuku Umar sempat diiming-imingi uang, candu, dan sejata, agar tidak memberontak kepada Pemerintah Belanda, bahkan diminta melawan rakyatnya sendiri, pada 1893.

Namun iming-iming Belanda itu, ditolak Teuku Umar, dan ia tetap melakukan perlawanan melawan Belanda, bersama rakyat Aceh, hingga terbunuh pada 1899 dan Belanda mengambil pakaian dan pecinya untuk di simpan di museum.

Saya merasa bersyukur bisa mengambil gambar berbagai artefak Tanah Air, di Museum Tropen Amsterdam Belanda, ke Tanah Air. Meskipun perolehan gambar saya masih jauh dari sempurna, tapi paling tidak bisa memberikan gambaran kondisi perjalanan Bangsa Indonesia selama di era penjajahan Belanda.

Sebagaimana diketahui bahwa di Museum Tropen banyak menyimpan ribuan cerita, karya menarik dari seni dan benda-benda menarik membawa budaya yang berbeda untuk hidup. Di Museum Tropis, kita bisa melakukan perjalanan melalui dunia dan melalui waktu dengan melihat artefak yang dipamerkan.

KIT dalam bahasa inggris “The Royal Tropical Institute” berdiri, pada 1864. Didirikan oleh Colonial Museum di kota Harleem, dengan tujuan untuk pengembangan ilmu dan pendidikan, sebelum akhirnya dipindahkan ke Amsterdam. Semula, KIT berisi koleksi artefak budaya dan antropologi dari wilayah Hindia Belanda.

(laporan Nove Zain Wisuda-PNS di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Pemkab Bojonegoro)

Leave a Comment