Share

Berburu Beasiswa “Short Course” di Belanda (1)

Bojonegoro (Media Center) – Beasiswa S2 di Belanda adalah impian saya sejak masih menempuh kuliah S1 Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia. Ketika itu saya ingat pernah datang di salah satu pameran Pendidikan Belanda dan ketemu dengan mbak luluk di stand Maastricht University.

Saat itu yang membuat saya semakin yakin bisa mendapat S2 di Belanda adalah karena, mbak luluk adalah lulusan S1 Kesehatan Masyarakat UI juga (kebetulan dibawah bimbingan dosen yang juga pembimbing saya, yaitu Prof Endang L Achadi) dan beliau mendapat beasiswa untuk S2 di Maastricht University.

Waktu itu dalam hati saya bilang: “wah ini ada senior yang sudah pernah dapet, suatu saat saya akan mencoba apply dengan meminta bantuan informasi proses-prosesnya dari mbak luluk”.

Beberapa tahun setelah lulus S1 (saya lulus S1 tahun 2010 awal, kalau lihat tanggal ijazah sih), saya masih belum berani mencoba apply baik Universitas maupun beasiswanya, alasan sederhana, “TOEFL” saya masih kurang, apalagi yang bikin saya sempat down itu karena saat saya ambil “TOEFL Prediction” di Unair skor saya hanya skitar 475, padahal dulu pernah 520.

Karena alasan “TOEFL” saya sempat tidak lagi berharap dapat Beasiswa di Belanda, bagaimana tidak, setiap saya mengerjakan tes “TOEFL”, saya sama sekali tidak bisa mendengar percakapan pada soal listening (kelak saya tahu, ternyata masalahnya adalah malam sebelum tes saya kurang istirahat, sehingga kurang konsentrasi).

Hingga pada sekitar tahun 2014 salah satu teman sekelas saya waktu di Kesehatan Masyarakat UI , Mbak Yuni (Staf di Dirjen Gizi Kementerian Kesehatan) mendapat short course di Wageningen University dengan tema Gizi.

Saat itu saya jadi mulai punya hasrat lagi untuk mencoba apply beasiswa di Belanda. Kemudian saya mulai tanya apa-ini apa-itu kepada mbak yuni, dari jawaban mbak yuni kok sepertinya gak sulit-sulit amat. Mulailah timbul semangat lagi.

Berbekal semangat baru saya mulai buka-buka buku TOEFL, dikit-dikit aja sih. Tahun 2015 saya mulai ngobrol-ngobrol lagi dengan mbak yuni, dia juga mulai mau persiapan untuk “apply short course” 2016.

Sejak saat itu saya beranikan diri untuk memutuskan: “Tahun 2015 harus “apply short course”, sekalian mengukur kemampuan untuk persiapan apply S2 di tahun 2016, supaya bisa berangkat S2 Tahun 2017”.

Sekitar bulan Agustus 2015 saya mulai menjadwal untuk ambil “TOEFL Prediction”, “Intitutional TOEFL” dan pengurusan Passport. Kenapa passport juga saya jadwalkan langsung ketika itu? karena menurut saya passport merupakan salah satu kunci keseriusan ketika kita berburu beasiswa ke luar negeri.

Dalam bulan Agustus itu yang pertama saya jalani adalah tes “TOEFL Prediction”, hasilnya cukup menggembirakan, saya mendapat skor 500, dan yang bikin saya tambah semangat adalah saya mulai bisa mendengar percakapan pada soal Listening, kuncinya ternyata terletak pada ISTIRAHAT YANG CUKUP PADA MALAM SEBELUM TES, sehingga saat tes benar-benar bisa “ON FIRE”.

Karena TOEFL Prediction hasilnya bagus, saya mantapkan untk berikutnya dalah pengurusan passport, ternyata tidak sulit, saya mengurus passport elektronik bersama istri dan anak di Kantor Imigrasi Waru, Sidoarjo, prosesnya sehari selesai, seminggu kemudian hasil bisa diambil.

Setelah itu saya mulai lihat-lihat short course di studyfinder.nl yang kira-kira sesuai dengan kualifikasi dan kebutuhan saya.

Ketemu lah 2 tema short course yang saya pilih, yaitu: 1. Human Resources for Health di KIT / The Royal Tropical Institute dan 2. Managing for Sustainable Development Impact di Wageningen University.

Di sela-sela mulai proses apply di Universitas saya melakukan tes Institutional TOEFL di Universitas Airlangga, hasilnya lebih menggembirakan lagi, saya mendapat skor 520 dengan rata-rata di masing-masing tes skornya di atas 50, saya semakin semangat… LANJUT!!!!!!!!

Pengalaman proses apply di Universitas akan saya lanjutkan di tulisan ke dua.

(Nove Zain Wisuda -PNS di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo)

Leave a Comment