Share

Berburu Misteri di Lawang Sewu

Semarang, 11/12 (Media Center) – Siapa yang tidak kenal “Lawang Sewu” atau berarti pintu seribu yang terletak di Semarang, Jawa Tengah. Berbagai artikel dan tayangan televisi yang menghadirkan nuansa misteri dan berbau mistis membuat saya dan puluhan teman-teman jurnalis dari Bojonegoro dan Tuban penasaran mendatangi gedung megah yang dibangun di era penjajahan Belanda, usai mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Pertamina EP Asset 4, Sukowati Field.

Jam menunjukkan pukul 8.30 Wib, meski matahari berpendar, sasana segar dan sejuk menyambut kedatangan kami semua saat memasuki pintu masuk Lawang Sewu setelah membayar tiket Rp10.000 per orang.

Saya penasaran dengan lokasi yang pernah dipakai shooting sebuah tayangan reality show televisi “Dunia Lain” sepuluh tahun yang lalu. Bahkan, rumor yang beredar, salah satu peserta meninggal dunia setelah mengikuti uji nyali dengan berdiam diri satu malam hanya membawa lilin sebagai penerangan. Konon, banyak penampakan dan bayangan menyeramkan saat sang peserta berada di salah satu sudut ruangan Lawang Sewu.

Meski awalnya merinding, saya menemukan satu tempat paling ujung dari bangunan yang digunkaan sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij (NIS), yaitu perusahaan kereta api swasta di masa pemerintahan Hindia Belanda yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia dan menghubungkan Semarang dengan “Vorstenlanden” (Surakarta dan Yogyakarta), dengan jalur pertamanya, jalur Semarang Temanggung 1867.

Gemerisik angin terdengar syahdu menerpa pohon rambutan yang mulai menampakkan buah-buahnya yang masih hijau. Sejenak, pandangan loss ke depan dan tidak ada satupun hal aneh dalam benak. Lantai berkeramik warna krem dengan dinding bercat putih pudar semakin menunjukkan kesan eksotisme zaman dahulu.

Sejenak membayangkan, berada di dalam ruangan yang luas tanpa benda lainnya, hanya sebuah ruangan dengan puluhan jendela berukuran besar akan sangat menyeramkan pada malam hari.

Tidak hanya pendar-pendar lampu temaram, rentetan rerimbunan pohon akan menambah suasana mencekam jika datang sendirian. Bagaimana tidak, bangunan yang menjadi saksi bisu kelamnya masa penjajahan Belanda, membuat Lawang Sewu menjadi tempat yang penuh misteri di Jawa Tengah.

Terlebih lagi, bangunan itu juga menjadi saksi sejarah tempat bertempurnya para pahlawan tanah air untuk mengusir para serdadu Jepang yang terakhir berkuasa. Termasuk saksi bisu ribuan pejuang Indonesia yang disiksa di lokasi itu.

Melihat langsung titik-titik tertentu, mulai dari bagian sumur tua, pintu utama, lorong-lorong, lokasi penjara berdiri, penjara jongkok, penjara bawah tanah, ruang utama, serta di bagian ruang penyiksaan membuat pikiran berkelana jauh menyerobot lorong waktu dan melihat langsung bagaimana para tahanan yang dimasukkan dan berdesak-desakan hingga meninggal dunia. Cukup membuat jantung berdetak kencang dan keringat dingin bercucuran.

Bukan rahasia lagi jika cerita misteri hantu seperti kuntilanak, genderuwo, hantu berwujud para tentara Belanda, serdadu Jepang, dan hantu wanita noni Belanda sering digaungkan masyarakat sekitar, wallahualam bissawab.

Setelah puas berkeliling sendirian, saya pun mendatangi teman-teman yang sedang asyik berfoto dengan backround replika kereta api dan berbagai lukisan kuno. Ada juga yang berfoto di antara puluhan jejeran pintu pada tiap-tiap ruangan yang dibangun pada tahun 1904 hingga 1907 silam.

Salah satu satpam yang berjaga bernama Mohammad Thoriq menegaskan jika tidak ada hal aneh atau cerita misteri seperti yang diberitakan selama ini. Terlebih, pengalaman selama 5 tahun terakhir bekerja baik menjaga, mengawasi, dan menutup pintu-pintu yang berjumlah 429 dengan daun pintu lebih dari 1200. Sebagian pintunya memiliki 2 daun pintu, sebagian lagi memiliki 4 daun pintu, yang terdiri dari 2 daun pintu jenis ayun dengan engsel, ditambah lagi dengan 2 daun pintu jenis sliding door/pintu geser.

“Ahh, tidak ada apa-apa Mbak. Hanya rumor saja, di sini aman dan bebas dari penampakan setan,” ujarnya sambil tertawa renyah. (*Rien/mcb)

Semarang, 7 Desember 2018

Leave a Comment