Share

BLH Bojonegoro Minta Penambang Pasir Tradisional Urus Izin

Bojonegoro, 23/8 (Media Center) – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bojonegoro berharap para penambang pasir manual atau tradisional di sepanjang sungai Bengawan Solo di Bojonegoro segera mengajukan izin pertambangan rakyat (IPR). Hal ini perlu dilakukan meski saat ini masih mendapat toleransi dari Pemkab Bojonegoro.

“Penambang pasir secara manual diharapkan segera mengajukan izin. Sehingga, legalitasnya ada,” ujar Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Bojonegoro, Elzadeba Agustina, Selasa (23/8).

Sesuai SK Dirjen Pengairan No 176 Tahun 1987, semua penambang pasir tradisional dilakukan di tempat yang telah ditentukan oleh Balai Besar Sungai Bengawan Solo. “Jadi tidak sembarang lokasi bisa ditambang,” lanjutnya.

Lokasi yang dilarang untuk penambangan pasir tradisional salah satunya di tikungan luar sungai. Ada juga lokasi tebing Bengawan Solo yang rawan longsor. Ia menambahkan, lokasi penambangan juga harus berjarak minimal 1 kilometer dengan jembatan atau bendungan.

“Ini untuk menghindari agar kegiatan penambangan tidak mempengaruhi konstruksi bangunan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas ESDM, Agus Supriyanto, mengatakan, untuk mendapatkan IPR dari Pemprov Jatim, para penambang manual harus memperoleh rekomendasi dari pemkab maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo di Solo.

“Saat ini masih ada 11 pengajuan penambangan pasir yang membutuhkan rekomendasi,” tandasnya.(dwi/mcb)

Leave a Comment