Share

Bojonegoro Anut OGP Dengan Tiga Output

Bojonegoro, 7/11 (Media Center) – Open government partnership (OGP) yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sekarang ini mengenai revolusi data untuk mengetahui pemasalahan yang dihadapi rakyat. Sedangkan OGP tingkat desa itu efektif untuk menyelesaikan masalah resource di tingkat desa.
Demikian disampaikan Bupati Bojonegoro, Suyoto saat membuka lokakarya pelayanan  kesehatan yang partisipatif di kabupaten program maklumat bersama pelayanan bersih (pro mama asih) yang dihadiri ormas, NGO, LSM dan akademisi di ruang co-creating gedung Pemkab, Selasa (7/10).
Bupati menjelaskan keterbukaan yang dipakai ini agar semua resource dapat dikelola dengan akuntabel dan dapat diakses oleh publik. Sehingga masyarakat dapat melihat bagaimana pengelolaan resource oleh pemerintah. Serta masyarakat dapat memberikan masukan dan kritik kepada pemerintah. OGP yang dianut Bojonegoro, lanjut dia, memiliki 3 output di antaranya adalah pendidikan, kesahatan, dan perijinan.
“Kebanyakan daerah hanya menerapkan dua output saja,” ungkap bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini.
Saat ini cara melayani rakyat sudah berbeda. Dimana dulu rakyat mau dilayani atau tidak tidak masalah, semua tergantung dari aparat pemerintah. Sekarang rakyat diperlakukan seperti konsumen yang kritis. Masyarakat sudah dianggap market yang perlu untuk dilayani. Namun sekarang rakyat bukan menjadi market saja tapi juga partner di bidang kesehatan. Dimana masyarakat dapat memberikan masukan kepada pemerintah mengenai bagaimana seharusnya pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan.
“Sehingga rakyat tidak saja perlu untuk dilayani tapi juga perlu dirangkul untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi,” jelasnya.
Menurut dia lokakarya yang dilaksanakan saat ini merupakan bagian dari masa lalu dan masa depan. Dimana berkaca pada masa lalu untuk mengevaluasi apa saja yang masih kurang serta memperbaikinya pelayanan untuk kedepannya.
“Dengan begitu masyarakat dapat diberi pelayanan yang maksimal,” tegas Kang Yoto.
Direktur IDFoS Indonesia, Joko Hadi Purnomo menyampaikan kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 2016, dan mulai dibentuk pilot project sejak awal 2017 ada di Puskesmas Gayam, dan Pungpungan. Dia menjelaskan alasan dipilihnya menamakan “mama asih” karena diharapkan dalam memberi pelayanan bisa seperti para mama yang melakukan pekerjaan dengan teliti, cermat, dan sepenuh hati. Diharapkan diskusi berjalan dengan baik.
“Serta dapat menyampaikan ide-ide yang bisa membantu dalam menunjang pelayanan kesehatan yang lebih baik dan bersih,” punfkas Joko.(*dwi/mcb)

Leave a Comment