Share

Bojonegoro Berencana Kembangkan Pengolah Air Embung

Bojonegoro (Media Center) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, berencana mengembangkan pengolah air dengan memanfaatkan bahan baku air embung di daerahnya, yang sudah terbangun, sebagai usaha mencukupi kebutuhan air domestik rumah tangga di musim kemarau.

“Kami tertarik ikut mengembangkan pengolah air, yang dibangun Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro, di sejumlah embung geomembran di Tuban,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Bojonegoro Andik Sudjarwo, Kamis (6/8).

Apalagi, lanjut dia, pemkab merencanakan membangun 1.000 embung, sehingga pembangunan pengolah air di embung akan sangat membantu warga yang biasa kesulitan air bersih di musim kemarau.

“Dan lagi, biaya pembuatannya tidak mahal hanya Rp10 juta per unit,” katanya, dalam rapat koordinasi kekeringan dengan UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Bengawan Solo, BPBD Lamongan, Tuban dan Gresik.

Data di BPBD, warga yang saat ini mengajukan permintaan air bersih, sebanyak 36 desa yang tersebar di 11 kecamatan.

“Tahun lalu kekeringan, yang mengakibatkan warga kesulitan air bersih ada 74 desa yang tersebar di 21 kecamatan,” ucapnya.

Kepala UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Hirnowo, menjelaskan pengolah air yang dibangun tahun ini, yang akan mengolah di embung geomembran sebanyak 15 unit, di antaranya, sebagian besar di Tuban.

“Pembangunan pengolah air embung di Bojonegoro akan kami laksanakan menyusul,” ucapnya.

Menurut dia, pengolah air tersebut dibangun di embung geomembran yang dibangun di Tuban, juga Lamongan dan Gresik. Bahan yang dibutuhkan, tiga tampungan air, arang sambi, pasir asal Lumajang, batu asal Blitar, juga bahan lainnya.

Hasil air yang diolah dengan pengolah sederhana yang dikembangkan itu, katanya, cukup bagus untuk kebutuhan air domestik rumah tangga.

Ia mencontohkan satu unit pengolah air domestik di sebuah desa di Kecamatan Parengan, Tuban, yang sudah terbangun mampu mencukupi kebutuhan air domestik warga satu dusun.

“Sebaiknya air yang dihasilkan tetap harus dimasak dulu. Jangan langsung diminum, seperti air kemasan,” tandasnya. (sa/mcb).

Leave a Comment