Share

Bojonegoro Ikut Lelang Kelola Panas Bumi Gunung Pandan

Bojonegoro, 22/8 (Media Center) – Kabupaten Bojonegoro, Nganjuk dan Madiun, Jawa Timur, ikut lelang mengelola panas bumi Gunung Pandan yang ditawari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Semburan lumpur dan bau belerang sebagai indikasi potensi panas bumi di perut Gunung Pandan.

Gunung Pandan—berada di areal Gunung Kendeng Selatan—berjarak sekitar 50 kilometer arah selatan Kota Bojonegoro. Di sebelahnya terdapat Gunung Puru yang berada di Kecamatan Gondang dan berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk. Sementara Gunung Pandan lokasinya dimiliki oleh Kabupaten Madiun, Bojonegoro dan Nganjuk.

Dalam lembaran disposisi dari Kementerian ESDM Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, bahwa pelelangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Pandan dilakukan pada tahun 2016 ini. Sedangkan surat ditujukan ke Gubernur Jawa Timur, Bupati Bojonegoro, Nganjuk dan Madiun. Isinya, terkait pelelangan WKP dibentuk oleh Menteri dan beranggotakan wakil serta instansi yang memahami tata cara pelelangan wilayah kerja. Surat ditanda tangani oleh Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM Rida Mulyana.

Menurut Dinas ESDM Kabupaten Bojonegoro Agus Supriyanto, pelelangan WKP, pihaknya sudah menerima surat dari Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM. Selanjutnya, pihaknya berkirim surat ke Pemerintah Kabupaten Madiun dan Nganjuk untuk koordinasi soal energi panas bumi di Gunung Pandan dan Gunung Puru. ”Kita akan rapat mewakili di tiga kabupaten,” tegasnya pada kanalbojonegoro.com, Senin (22/8).

Peneliti Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bandung , Dr Igan S Sutawidjaja mengatakan panas bumi di Gunung Pandan dan Puru, iakui masih ada. Tetapi, panas bumi perut dua gunung itu, hanya sisa-sia dari dua juta tahun silam dimana kandungan magmanya sudah banyak keluar. “Namun kini cenderung mengecil,” ujarnya via telepon Jumat (5/8) lalu.

Biasanya, lanjutnya, jika kandungan magmanya banyak, permukaan tanahnya akan panas. Mirip seperti sejumlah gunung berapi yang aktif di beberapa tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan jawa Barat. Sebaliknya, kondisi permukaan tanahnya dingin. Kalaupun muncul semburan lumpur, itu pun volumenya tidak sebesar gunung berapi yang aktif.

Igan S Sutawidjaja menyebutjan, panas bumi di dua gunung itu, muncul karena menerobos di sela-sela permukaan tanah. Apalagi, tanah di Pegunungan Pandan dan Puru berupa lempung dan cenderung lembek. Batu yang menerobos akibat dorongan panas bumi, muncul karena terjadi erosi di permukaan tanah. Lalu, batu disertai lumpur dan gas, muncul ke sela-sela tanah lempung. Proses ini, terus-menerus terjadi.

Sedangkan lumpur disertai gas, lanjutnya, kemungkinan muncul saat hujan deras. Karena, tanah-tanah di permukaan Gunung Pandan dan Puru, erosi dan melorot ke bawah. Akibatnya, permukaan tanah pegunungan mengelupas dan batu dari bawah menerobos ke atas.

Pihak Badan Lingkungan Hidup Bojonegoro, telah mengambil sample lumpur dari Desa Kerondonan, Gondang, untuk dibawa ke Laboratorium BLH Jawa Timur di Surabaya, pada 26 Juli 2016 lalu. Pengiriman sample dilakukan tim dari BLH Bojonegoro, yang datang ke lokasi semburan pada Selasa sore 25 Juli 2016. Hasil pengukuran udara di sekitar semburun lumpur Kerondonan, pihak BLH Bojonegoro menyebut, ada kandungan nitrogen dioksisa (N02) sebanyak 0,4-0,7 ppm. Kemudian karbondioksida (C02) sebanyak 20,9 ppm.(*/mcb)

Leave a Comment