Share

Bojonegoro Kembangkan Kapas Jadi Agropolitan Salak

Bojonegoro (Media Center) – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berencana mengembangkan Kecamatan kapas, menjadi agropolitan salak, dengan wisata petik langsung, dengan ditunjang berbagai produk olahan berbahan salak.

“Arah pengembangan kawasan wisata agropolitan salak di Kecamatan Kapas, yaitu menjadikan kawasan kebuk salak sebagai pengembangan wisata petik sendiri,” kata Kasi Pemerintahan Desa (PMD) Kecamatan Kapas, Bojonegoro Ike Widiya Ningrum, Jumat (27/11).

Selain itu, lanjut dia, juga menyediakan wisata penunjang seperti wisata kuliner, pusat oleh-oleh berbahan dasar salak, mulai jenang, manisan, wingko salak, juga lainnya.

“Budi daya salak akan dilakukan secara modern, sehingga komoditas salak bisa terpilah dan ada pengembangan ditunjang pemeliharaan kebun salak,” paparnya.

Di Kecamatan Kapas, ada 10 desa yang memiliki potensi tanaman salak yaitu Desa Wedi, Tanjungharjo, Kalianyar, Tapelan, Padangmentoyo, Bangilan, Sembung, Bendo, Klampok dan Kedaton, yang memiliki potensi tanaman salak.

Di desa itu, tercatat ada 105.070 pohon salak, dengan luas 75,05 hektare.”Soal produksinya saya tidak hapal,” ucapnya.

Ia mengakui permasalahan utama yang menghambat pengembangan kawasan agropolitan salak di sejumlah desa di Kecamatan kapas, di antaranya, kesadaran masyarakat yang masih lemah dalam pengembangan desa wisata.

Selain itu, lanjut dia, juga belum ada jaminan pelaksanaannya bisa berkelanjutan, disebabkan pengaruh musim, yaitu pengairan untuk mencukupi kebutuhan tanaman salak ketika kemarau.

“Kalau kemarau di satu lingkungan saja ada sekitar 100 warga yang memiliki kebun salak tidak bisa memperoleh air untuk mengairi tanaman salaknya,” jelas seorang warga Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Ny. Munah.

Menurut Munah, yang memiliki 50 pohon salak dan Ny. Sulastri, yang memiliki 100 pohon salak bahwa tanaman salah sangat membutuhkan air.

“Air sumber di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, sekarang tidak bisa menjangkau kebun salak warga di desa kami,” jelas Ny. Sulastri.

Meski demikian, jelas dia, penghasilan warga yang memiliki kebun salak tidaklah kecil.

“Saya bisa kalau memperoleh Rp100 juta per tahunnya. Ya, ada yang saya jual sendiri atau dibeli pedagang,” kata Ny. Sulastri, menegaskan. (*/mcb)

Leave a Comment