Share

Bojonegoro Kembangkan Tepung Porang

Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai jual hasil alam adalah mengolahnya menjadi bahan setengah jadi, termasuk tanaman porang yang bisa dioleh menjadi tepung.

Bojonegoro (Media Center) – Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai jual hasil alam adalah mengolahnya menjadi bahan setengah jadi, termasuk tanaman porang yang bisa dioleh menjadi tepung. Meskipun permintaan porang sebagai bahan mentah cukup tinggi, namun pasar tepung porang diyakini masih berpotensi untuk ditangkap.

Itulah yang dikatakan oleh Kepala Dishutbun Kabupaten Bojonegoro, Ardioyono Purwanto. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro telah menyiapkan program khusus pelatihan pengolahan porang menjadi tepung.

Menurut Ardiyono, pihaknya akan bekerja sama dengan Institute Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam program tersebut untuk petani porang di Desa Klino, Kecamatan Sekar. “Ini untuk meningkatkan harga jual porang,” katanya.

Sebagai langkah awal, menurutnya, perwakilan Teknologi Pangan UGM sudah menyatakan kesediaannya untuk mengajari petani cara penepungan. “Selain pembuatan tepung, kami melakukan kerja sama dengan UGM maupun IBP untuk mengajari pengeringan atau pengopenan dengan tenaga surya maupun listrik,” tambahnya.

Selama ini, petani yang tergabung dalam lembaga masyarakat desa Hutan (LMDH) Pandan Arum Desa Klino itu menjual dalam bentuk umbi ke sejumlah pabrik di Kabupaten Pare dan Madiun. Rata-rata perkilogramnya umbi porang dijual seharga Rp3 ribu – Rp4 ribu.

“Tapi kalau dijual dalam bentuk tepung bisa dua kali lipatnya. Karena porang ini untuk konsumsi ekspor seperti di negara Jepang, Taiwan untuk komestik dan bahan makanan,” ujar mantan Camat Sekar itu.

Pelatihan ini untuk mendukung pengembangan tanaman porang yang ditargetkan seluas 335 hektar (ha) tahun 2014 ini. Dia berharap, dengan adanya pelatihan itu nantinya dapat meningkatkan pendapatan petani porang. “Karena tidak ada istilahnya porang ini tidak laku. Berapapun jumlahnya pasti akan dibeli,” tegas Ardiyono.

Untuk diketahui, pada tahun 2013 lalu, Dishutbun telah mengembangkan tanaman porang seluas 39 hektar. Karena memiliki prospek cerah, luasan panen itu ditargetkan meningkat menjadi 335 hektar tahun ini.

Rata-rata produksi tanaman porang per hektarnya bisa menghasilkan 8 – 10 ton atau satu pohon produksinya bisa mencapai 8 kilo gram. (*/numcb)

Leave a Comment