Share

Bojonegoro Masuki Masa Akhir Panen Tembakau

Bojonegoro (Media Center) – Petani tembakau yang ada di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai panen. Para petani itu sekarang sudah mulai melakukan petikan terakhir daun tembakau.

Petani tembakau yang telah panen salah satunya ada di Desa Turigede, Kecamatan Kepohbaru. Tembakau yang selesai dipanen langsung dirajang sendiri dan dijual kepada pabrikan.

Salah seorang petani tembakau, Kokoh, mengatakan, tanam tembakau itu dilakukan pada Juni lalu. Karena kemarau panjang ditambah bulan puasa, para petani memilih untuk menyiram tembakau pada malam hari.

“Sekarang harga jualnya tidak sesuai. Kalau kualitasnya tidak bagus juga dibeli dengan harga rendah,” ujarnya pada kanalbojonegoro.com, Kamis (15/10).

Perkilogram, jika kualitas tembakau bagus dibeli oleh pabrikan dengan harga Rp18.000, sedangkan jika tidak masuk spesifikasi maka hanya dibeli dengan harga Rp5.000 /kilogram.

“Kebutuhan pabrikan sekarang mungkin lebih dikurangi,” tambahnya.

Sementara, berdasarkan data dari Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) areal tanam tembakau Virginia di Bojonegoro pada musim kemarau tahun ini seluas 44.000 hektare tersebar di beberapa kecamatan di antaranya Kepohbaru, Sugihwaras, Kedungadem, Ngasem, Malo, Sumberejo dan Baureno.

Sedangkan areal tanaman tembakau di wilayah Kecamatan Kepohbaru seluas 1.700 hektare. Panen tembakau di Kecamatan Kepohbaru termasuk panen terakhir, jika dibanding dengan kecamatan lain. Hal itu disebabkan karena tanam tembakau dilakukan setelah panen padi.

Sedangkan, untuk luasan areal tanaman tembakau jenis jawa luasan tanamnya mencapai 2.300 hektar. Semua lahan tembakau yang tersebar dibeberapa kecamatan itu kini sudah mulai panen.

Sementara itu, Dishutbun Kabupaten Bojonegoro mengakui harga daun tembakau basah dan rajangan pada musim kemarau tahun ini menurun.

Penyebabnya, kualitas daun tembakau pada musim tanam kali ini kurang bagus. Selain itu, pabrikan juga menerapkan standar tertentu dalam penyerapan daun tembakau rajangan dari petani.

Kepala Bidang Perkebunan, Dishutbun Kabupaten Bojonegoro, Khoirul Insan, mengakui memang banyak petani mengeluhkan jebloknya harga daun tembakau basah maupun tembakau kering rajangan.

“Hanya ada beberapa pabrikan rokok yang mengambil tembakau dari petani,” ujarnya.

Menurutnya, gudang pabrikan rokok yang mengambil daun tembakau dari petani di Bojonegoro yaitu gudang PT Djarum di Kapas dan Baureno serta gudang pabrik rokok PT Sadana di Padangan.

Menurutnya, daun tembakau yang dibeli oleh gudang PT Djarum harganya masih tinggi yakni sekitar Rp24.000 sampai Rp25.000 /kilogram. Sedangkan, daun tembakau rajangan yang dibeli pabrik rokok PT Sadana sekitar Rp21.000 sampai Rp31.000 /kilogram. Sedangkan, harga jual tembakau krosok di kisaran Rp24.000 sampai Rp28.000 /kilogram.

Akan tetapi, daun tembakau yang tidak bisa diserap oleh pabrikan itu harganya jeblok. Harga daun tembakau itu akhirnya banyak dibeli oleh para tengkulak dari luar daerah Bojonegoro. Harga beli daun tembakau itu pun jeblok hanya di kisaran Rp6.000 sampai Rp13.000 /kilogram.(dwi/*mcb)

Leave a Comment