Share

Bojonegoro Mewujudkan Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota

Oleh : Ir Tedjo Sukmono MM

(Staf Ahli Bupati Bojonegoro Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan)

Bojonegoro mulai menunjukkan geliat perkembangannya sebagai kabupaten dengan daya tarik yang dimilikinya. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya tamu-tamu dari berbagai kota, bahkan dari luar negeri, juga dari dunia pers, NGO dalam dan luar negeri, konsultan perancang internasional, datang untuk melihat Bojonegoro dengan keindahan alam dan budayanya.

Salah satu yang berkesan di Kota Bojonegoro, meskipun banyak kesibukan namun ada rasa kenyamanan dan keamanan serta keasrian. Meskipun di Kota, rasanya ada di desa. Ini yang dirasakan oleh para tamu setelah singgah di Bojonegoro. Di Kota ledre ini banyak pohon, buah-buahan, tidak banyak gedung menjulang tinggi, tidak banyak mall, dan infrastruktur tertata rapi. Inilah kota rasa desa yang tidak dimiliki di tempat lain, tapi ada di Bojonegoro.

Di Singapura, meskipun disebut sebagai Negara yang banyak keindahannya, tapi belum tentu warganya merasa nikmat hidup disana, karena masih ada kesibukan pekerjaan dan kemacetan. Seperti di Jakarta yang juga macet dan sibuk dengan pekerjaannya. Orang dipicu mencapai sesuatu berangkat pagi pulang malam dengan berbagai kesibukanya.

Biasanya suatu kota yang memiliki perkembangan pesat di wilayah Indonesia, cenderung tumbuh menjadi kota yang generik dengan ekspansi yang tidak terkontrol. Di Kota Bojonegoro yang memiliki luas 2.30,06 km dengan populasi 99.000 jiwa, masih memiliki karakteristik sebagai kabupaten di Jawa Timur dengan kesederhanaan dan kesantaian menjadi sesuatu yang unik, dimana pengalaman yang lebih manusiawi dimungkinkan terwujud. Hal-hal yang penting bagi kehidupan lebih dihargai daripada globalisasi.

Visi konsep Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota ini semakin mengerucut, ketika Kang Yoto bertemu Menteri Perdagangan Indonesia Mari Elka Pangestu dan konsultas dari Bandung Daliana Suryawinata (PT SHAU) di Jakarta. Pertemuan tersebut berlanjut pada kajian ilmiah dan sumber daya, yang ada di Bojonegoro. Kesan yang diungkapkan seorang Ibu yang pernah menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini; Bojonegoro khas dan unik.

Kesan ini bisa dibuktikan, jika melakukan perjalanan di sekitar kota Bojonegoro, semua mudah dijangkau dan tidak macet. Beda dengan kota seperti Jakarta, Malang, Bandung atau kota-kota lain, naik mobil macet, motor juga macet, semua macet karena kurangnya persiapan menuju kota berkembang. Selain tidak macet, disepanjang jalan Kota Bojonegoro banyak pohon rindang yang memberikan rasa teduh dan nyaman warga yang beraktivitas. Bojonegoro menjadikan potensi kota rasa desa, yaitu suatu kebutuhan baru untuk memvisikan perkembangan kota Bojonegoro ke arah kota yang bebas steres, yang menghargai kesantaian dengan kualitas desa namun dengan infrastruktur dan fasilitas yang maju.

Pembangunan ini terinspirasi kota-kota di dunia seperti di Spanyol, Sevilla, Cordova dan kota-kota lain, yang dimana-mana terdapat taman khas. Di Sevilla misalnya, menjadikan pohon jeruk sebagai tanaman khas sehingga karakter jeruk ada dimana-mana. Sampai mejadi mainset; kalau ada pohon jeruk bertarti sedang berada di Sevilla atau di Cordoba.

Sedangkan Bojonegoro punya beberapa tanaman karakteristik kalau dibawa di kota akan membawa perasaan kita sedang ada di Bojonegoro. Misalnya ada jalan belimbing dimana ada jalur yang kiri kanannya ditanami pohon belimbing,manga,jambuatau tanaman buah buah lainnya. Kalau sedang duduk ada aroma belimbingatau aroma buah lainnya.  Sebagai langkah awal, Pemkab Bojonegoro mulai penataan Jl Veteran dengan nuansa visi konsep Kota Rasa Desa, yang kedepan bisa dinikmati kenyamanan dan keasriannya. Dimana saat ini sedang dibuat konsep DRK yang sedang dalam proses yang memerlukan tahap tahap menuju DRK.

Visi konsep Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota, hasil kajian PT SHAU ini, nantinya menyusun guidelines pembangunan dengan memerhatikan aspek lingkungan (environmental), sosial (social), estetika (easthetics), dan matoh (excellent). Kota rasa desa tersebut, selalu identik dengan kenyamanan, keasrian dan banyak tumbuhan dan tanamanbuah  khas Bojonegoro.

Sekarang ini, Pemerintah Bojonegoro mulai banyak menanam pohon tidak hanya di wilayah kota saja, tetapi juga di wilayah lainnya agar saling mendukung. Pasalnya, daerah kota selalu identik ke arah suhu yang panas, karena dampak hutan gundul, kegiatan migas, usaha lain dan aktivitas yang semakin ramai di kota.

Nantinya di jalan-jalan ditanami pohon buah, seperti belimbing, mangga, jambu, sawo dan buah-buahan khas Bojonegoro lainnya. Juga ada tempat bebas mobil seperti kawasan di Malioboro, bisa sebagian atau seluruhnya, atau pada moment tertentu. Lalu dibuat tempat khusus Pedagang Kaki Lima (PKL) agar jangan sampai semerawut, karena PKL tidak boleh berdagang sembarangan. Mereka, misalnya menggunakan halaman rumah-rumah di pinggir jalan untuk berjualan dengan system sewa. Selain itu juga harus membuat aplikasi penjualan melalui internet dan media sosial.

Saat ini beberapa PKL sudah melakukannya, sehingga tidak menempati trotoar dan tidak mengganggu pengguna jalan. Disamping itu juga terlihat rapi dan menambah kenyamanan pembeli. Bisa jadi pada waktu-waktu tertentu digunakan seperti di malam hari, atau pada waktu subuh. Tapi masyarakat, khususnya yang memiliki usaha seperti layanan kesehatan dan sebagainya, dihimbau untuk menyediakan space di dalam seperti foodcourt dan penyediaan area parkir agar rapi. Mungkin selama ini masih perlu ada penataan PKL. Adanya penataan PKL setelah ramai. Nah ini bisa dimulai dari kita semua, dimana sinergi pemerintah ,swasta,PT dan warga berlangsung harmonis dengan visi untuk kemajuan bersama.

Dalam Visi konsep Kota Rasa Desa, juga dibuat jalan beratap untuk memberikan keteduhan di siang hari yang panas, dan terang di malam harinya. Ada beberapa referensi kota dimana kalau hujan tetap basah tapi kalau matahari sedang terik tetap teduh. Ini menarik karena memberikan karakter jalan-jalan tertentu, yang dipasang tidak di semua jalan tapi di beberapa jalan sekunder atau tersier yang tidak terlalu besar, sehingga orang bisa berjalan kaki dan nyaman sehingga tercipta ruang publik yang nyaman.

Ide plakat kayu untuk setiap gedung, kantor, hotel, rumah dan perkantoran, juga menarik diterapkan pada konsep ini. Apalagi Bojonegoro terkenal memiliki kayu jati yang unggul. Ide membuat elemen plakat kayu jati di setiap rumah dan bangunan akan menjadi daya tarik yang menjadi cirri khas yang membedakan cirri khas antara Bojonegoro, Tuban ,Gresik, Lamongan serta kota-kota lainnya. Untuk memaksimalkannya, ide ini bisa didukunglegalitas berupa peraturan bupati (Perbup) yang saat ini masih dalam proses pembahasan.

Dalam bidang transportasi juga penting untuk dikelola. Sekarang ini kota-kota di Indonesia berlomba-lomba memiliki transportasi umum seperti MRT dan busway. Tapi tidak ada yang memikirkan publik transportasi yang ramah lingkungan dan tidak terburu-buru. Alangkah indahnya untuk menambah kekhasannya, konsep ini dilengkapi adanya transportasi umum santai seperti becak dan dokar untuk mengurangi rawan macet dan polusi udara dari kendaraan bermotor,baik kecil maupun besar.

Selain itu, biasanya kota maju identik dengan shooping mall. Tapi sebenarnya keberadaannya justru merenggut ruang publik dari yang seharusnya. Sebab orang menjadi terkomersialisasi dan anak muda nongkrong di mall jadi komersil. Kalau bisa shooping mall dibuat maksimal hanya 4 lantai saja supaya tetap memberi ruang publik.

Pemerintah Bojonegoro memang telah membatasi pembangunan mall baru berskala besar di kota sebagai komitment pemerintah melindungi pedagang kecil, toko dan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah ) yang sudah ada di sepanjang jalan. Kebiasaan belanja di mall ini bisa diarahkan dengan konsep shooping street yang tetap bernilai komersil, tetapi ruang publik di sekitarnya tetap berjalan.

Selain itu, unsur yang tak kalah penting yaitu zona atap hijau, dimana setiap rumah atau bangunan yang memiliki lantai tiga ke atas diharuskan memiliki atap hijau yang dapat menyerap air hujan. Juga perlu penggunaan bata penyerap air atau aspal penyerap air yang relefan untuk daerah-daerah rawan banjir atau butuh penyerapan air.

Hal yang tak kalah penting yaitu arsitektur icon kota seperti Paris dengan Menara Eiffel, New York dengan Patung Liberty dan sebagainya. Semua bisa dijadikan souvenir seperti gantungan kunci ,gambar kaos dan beberapa industry kreatif lainnya yang baru baru diciptakan bersama Bencraf.Di Bojonegoro telah muncul ikon baru WATU SEMAR dan SI GOGOR menggambarkan seekor harimau yang ramah,baik hati ,jinak,dan selalu bahagia.Juga di kota nanti banyak dibuat Danau danau buatan yang juga berfungsi sebagai bosem yang rencana ditempatkan di Alun alun ,sekitar jaln Veteran,Ngrowo,Semanding dan tempat lainnnya. Nah sebenarnya sebuah kota butuh bangunan kebanggaan yang bisa dibuat marchandise bukan karena bangga tapi ingin memunculkan kesan ingat akan bangunannya. Tujuan ide ini bagaimana menggabungkan antara icon kota dengan merchandise sehingga menjadi persepsi ; kalau sudah memakai merchandise ini, maka sudah pernah ke Bojonegoro.

 

Sementara itu, konsep Desa Rasa Kota juga direncanakan diterapkan di 27 kecamatan atau sekitar 412 desa. Pertumbuhan di desa-desa di Bojonegoro, terkait aktivitas pembangunan minyak dan aktivitas lainnya merupakan potensi yang perlu didukung konsep ini. Untuk itu perlu adanya sarana pendukung dan fasilitas memadai sehingga kehidupan di desa dirasakan tetap lebih nyaman dan tenteram sehingga masyarakatnya bahagia.

Adapun guidelines desa rasa kota antara lain, adanya tram elektrik untuk menghubungan desa-desa terpencil. Juga adanya fasilitas kesehatan yang terjangkau dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Disamping itu perlu adanya sekolah kejuruan di seluruh daerah sehingga masyarakat tidak harus ke kota untuk mendapatkan pendidikan kejuruan. Sekolah kejuruan ini nantinya akan mendukung kesiapan tenaga kerja di berbagai bidang seperti perminyakan, otomotif, teknik, dan kebutuhan tenaga kerja lainnya di berbagai bidang.

Pada visi konsep desa rasa kota juga dibuat fasilitas olahraga di tengah lingkungan warga, serta adanya balai kreativitas warga desa yang multifugsi dilengkapi perpustakaan, workshop, seni dan kerajinan. Dengan fasilitas ini diharapkan muncul kreatifitas warga membuat produk handicraft, kuliner, musik, seni, televisi, radio dan lain-lain, sehingga juga bisa menjadi sentra bisnis desa untuk memfasilitasi usaha warga desa. Untuk memperkuat produk kreatif tersebut, dinas perindustrian tenaga kerja bisa mendukungnya agar semakin memperkuat ikon produk yang ada di desa-desa.

Di desa-desa juga perlu adanya pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang memadai seperti saat ini sudah dibangun beberapa rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga desa. Disamping itu, perlu adanya pasar antar desa untuk mendukung perekonomian desa dan memberikan ruang khusus acara seperti pasar festival, konser musik, dan tari untuk mengaktivasi area terpencil.

Bojonegoro yang dilintasi sungai bengawan solo juga perlu adanya sentra banjir sebagai pusat informasi perkembangan naik dan turunnya air bengawan solo, yang dapat digunakan warga sekaligus digunakan tempat pengungsian, titik kumpul dan evakuasi korban banjir. Dilengkapi Wifi, televisi, trauma center dan lain sebagainya, sehingga warga di pengungsian tidak traumatik dan berdamai dengan banjir yang memang tidak bisa dihindari warga Bojonegoro yang tinggal di sekitar aliran sungai bengawan solo.

Desa rasa kota ini sebenarnya secara alami terjadi dan terbentuk , tinggal dikuatkan dengan regulasi dan menegaskan bahwa di daerah-daerah tersebut, selain memiliki karakter suasana asri, nyaman, banyak buah-buahan dan tanaman, juga karakter warga Bojonegoro di kota dan di desa merasakan nuasana bahagia.

Di kota juga banyak tanaman buah-buahan, rumah-rumah dibuat khas suasana Bojonegoro, dengan memakai plakat kayu jati, arsiteknya juga khas. Tidak ada mall baru, dan adanya kebijakan baru untuk tidak sering menebang pohon. Suasana seperti ini jangan sampai di kurangi tapi perlu kita tambah. Suasana bising yang biasanya ada di kota, kita atur dengan mengurangi kendaraan bermotor. Orang bebas berjalan atau berlari sambil membeli makanan, otomatis akan mendukung keamanan dan kenyamaan.

Oleh karena itu, upaya Bojonegoro mewujudkan Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota, ini harus menjadi visi bersama dengan pengendalian pelaksanaan ada di dinas-dinas terkait. Seperti Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pendidikan, Badan Penanaman Modal dan Ijin, Dinas Perdagangan, Dinas Pemukiman dan Daerah, Dinas Pariwisata dan Dinas Pemuda dan Olahraga. Termasuk juga Dinas Satpol PP, Dinas Bina Marga dan PR, Dinas PKP Cipta Karya, serta kecamatan, kelurahan dan desa.Yang paling penting adalah kolaborasi antara 5 SEKAWAN yaitu Masyarakat,Swasta,Perguruan Tinggi,NGO/LSM dan Birokrasi artinya konsep DRK maupun KRD tidak hanya tanggung jawab Pemerintah saja akan tetapi melibatkan semua pihak.

Pertama di Indonesia

Perwujudan visi konsep ini memang perlu perjuangan. Tapi kita bisa mengatakan bahwa di dunia ini ada kota rasa desa dan desa rasa kota yang adanya di Bojonegoro. Visi konsep ini akan menciptakan suasana keasrian,yang jarang dimiliki kota lainya, bahkan bisa disebut pertama kali ada di Indonesia.

Visi konsep tersebut akan lebih menarik dunia wisata untuk melihat keindahan dan budaya Bojonegoro lebih dekat. Otomatis nantinya akan meningkatkan kunjungan tempat-tempat wisata di Bojonegoro, termasuk menggeliatnya UMKM, kuliner dan oleh-oleh khas Bojonegoro, serta pameran budaya dan kuliner, aneka festival dan pesta warga di daerah-daerah.

Dinas Pariwisata memiliki peluang besar untuk menangkap potensi yang muncul dari visi konsep Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota ini. Visi konsep ini minimal perlu mendapat dukungan lima unsur utama yaitu pemerintah, swasta, civitas perguruan tinggi, LSM dan masyarakat. Kelima unsur ini harus bersinergi menata lingkungan karena menyangkut biotik dan abiotik makhluk hidup.

Oleh karenanya perlu membangun kesadaran termasuk pembinaan karakter masyarakat untuk merencanakan dan mengelola lingkungan lebih baik. Sehingga barang yang dilihat tidak bermanfaat, seperti sampah pun bisa diolah lagi menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Saat ini pemerintah kabupaten terus mematangkan visi konsep Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota yang segera di launching tahun 2018. Berbagai ahli diminta masukan dan saran, termasuk mengadakan workshop dan lokakarya yang mengundang konsultan dari luar untuk mematangkan agenda tersebut. Juga semakin menguatnya kota masa depan (future of city) Bojonegoro.

Apalagi di era informasi yang serba cepat, warga dituntut untuk bergerak cepat. Dengan adanya media sosial yang semuanya serba online, otomatis bisa mendukung visi konsep Kota Rasa Desa, Desa Rasa Kota. Usaha yang selama ini beroperasi di jalanan bisa dilokalisir supaya ikut mendukung visi konsep tersebut.

Kantor yang di depannya banyak penjual bisa disiasati dengan pasar online dengan membuat aplikasi online. Meskipun Pemkab Bojonegoro berkomitmen untuk tidak membangun mall, kegiatan ekonomi akan tetap berjalan karena masih ada toko dengan aplikasi modern. Bahkan mall-mall yang ada di kota-kota besar mulai melirik pasar online dengan meluncurkan aplikasi online.

Jika seluruh komponen bekerjasama untuk mewujudkannya, tidak mustahil, Bojonegoro akan menjadi kota idaman bagi warga dalam meningkatkan perekonomian, menata keluarga bahagia, dan  akan terus berjalan dan sejalan dengan cita-cita bersama mewujudkan Bojonegoro sebagai daerah yang sehat, cerdas, produktif dan bahagia.Juga mewujudkan BOJONEGORO YANG AMAN DAN NYAMAN.  (*mcb)

Leave a Comment