Share

Buku Tentang Kemiskinan “Akut” di Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – Buku dengan judul “A Story Of Endemic Poverty In North East Java”, karya C.I.M.Penders, M.A., Ph.D., dari “Department of History, University of Queesland” (Australia), layak menjadi bacaan pemimpin di Bojonegoro, Jawa Timur.

Bahkan, Bupati Bojonegoro Suyoto, sangat berkeingingan buku yang mengambarkan kehidupan warga setempat di era penjajahan Belanda, yang dalam kondisi kemiskinan yang “akut” dalam kurun waktu 1900-1942, juga layak dibaca siswa SD.

“Saya ingin buku tentang kemiskinan di Bojonegoro di jaman dulu itu juga dibaca seluruh siswa SD,” katanya, di Bojonegoro, Sabtu (17/10).

Buku itu, menurut dia, bisa menjadi perbandingan bagi semua warganya terkait berbagai faktor yang mempengaruhi terjadinya kemiskinan dan berbagai upaya mengentas kemiskinan yang terjadi di daerahnya.

“Berdasarkan buku itu memang sejak dulu Bojonegoro tergolong daerah miskin,” ucapnya.

Buku Bojonegoro: 1900-1942 “A Story of Endemic Poverty In North East Java”, dengan tebal 144 halaman pertama kali dicetak oleh Gunung Agung (S) PTE. LTD, di Singapura, yang sekaligus sebagai penerbit.

Di Indonesia buku karya C.I.M. Penders, M.A, Ph.D., yang mengambarkan kemiskinan “akut” di Bojonegoro dipublikasikan PT Inti Dayu Press Jakarta, pada 1984.

Di dalam pengantarnya, C.I.M.Penders, M.A., Ph.D., sebagai penulis buku itu menjelaskan bahwa penulisan buku dilakukan antara 1982-1984.

Data terkait Bojonegoro, katanya, tidak banyak diperoleh dari Arsip Nasional di Jakarta, karena data Bojonegoro antara 1900-1942, telah hilang. Data terkait Bojonegoro dalam kurun waktu itu hilang, pada saat masa penjajahan Jepang.

Oleh karena itu, ia yang tidak pernah datang ke Bojonegoro itu, kemudian mencari data terkait Bojonegoro dari arsip “Departement van Kolonien in the Leeghwaterstraat in The Hague di Belanda.

Dalam pengantarnya, tidak dijelaskan latar belakang dirinya menulis buku tentang Bojonegoro. Hanya saja di pengantarnya di halaman pertama buku itu, ia menulis,”This story is dedicated to the long suffering wong cilik di Bojonegoro”. (sla/bersambung)

Leave a Comment