Share

Bupati Bojonegoro Harapkan Pelaku Penculikan Dihukum Berat

Bojonegoro, 30/6 (Media Center) – Bupati Bojonegoro Suyoto mengharapkan pelaku penculikan anak Ddk P (36) warga Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, dihukum berat agar kasus serupa tidak terulang lagi di daerahnya.

“Saya harapkan pelaku penculikan anak dihukum setinggi-tingginya,” katanya ketika memberikan sambutan dalam apel siaga Ramadniya Semeru 2016, yang digelar kepolisian resor (polres) setempat, Kamis (30/6).

Menurut dia, dengan adanya hukuman berat bagi pelaku penculikan anak, bisa mencegah orang untuk berbuat kriminal serupa.

“Orang harus berpikir ulang untuk melakukan perbuatan kriminal di Bojonegoro,” katanya menegaskan.

Ia juga mengapresiasi keberhasilan polres dalam mengungkap kasus penculikan anak di daerahnya karena bisa membuktikan kehadiran Negara dalam melindungi rakyat.

“Pengungkapan kasus penculikan ini menunjukkan Negara kuat,” tandasnya.

Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu Wahyu Sri Bintoro menyatakan polisi terus mengembangkan kasus penculikan anak dengan tersangka Ddk P (36) warga Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, karena kemungkinan masih ada korban lain yang belum melapor.

“Dari hasil pengusutan polisi ada sembilan lokasi tempat kejadian (TKP) kasus penculikan anak dengan tersangka Didik Purwanto,” jelas dia.

Ia menyebutkan sembilan lokasi TKP dengan tersangka Ddk P, rinciannya tujuh TKP di Bojonegoro, sedangkan dua TKP lainnya di Tuban.

“Polisi masih mengembangkan kasus ini, karena kemungkinan masih ada korban lainnya yang selama ini malu melapor ke polisi,” ujarnya.

Data yang diperoleh bahwa pelaku berhasil ditangkap Tim Buser Polres Bojonegoro di depan Stasiun kereta api (KA) Tawang, Semarang, Jawa Tengah, pada 25 Juni.

Dua hari yang lalu pelaku menculik korban F (14) warga Kecamatan Balen, dari rumahnya untuk dibawa kabur ke luar kota.

Pelaku memberikan iming-iming akan membelikan telepon selular kepada korbannya. Ketika itu korban dibawa lari dan ditingal di Ngawi, yang untuk selanjutnya korban pulang sendiri ke rumahnya.

“Sebagian besar korban juga disetubuhi dengan alasan untuk menyempurnakan ilmu gendamnya dengan target jumlah korban tertentu,” kata Humas Polres Bojonegoro AKP Suyono. (*)

Leave a Comment