Share

Bupati Bojonegoro Sosialisasikan Pembangunan “Groundsill”

Bojonegoro, 17/8 (Media Center) – Semakin tingginya endapan Sungai Bengawan Solo karena erosi diperlukan pembangunan Groundsill di aliran Bendungan Gerak. Tujuannya mengurangi kecepatan arus dan meningkatkan laju pengendapan sedimen di bagian hulu groundsill.

PPK BBWS Sub Madiun, Joko menjelaskan pembangunan Groundsill ini untuk mengamankan pondasi jembatan atau bendungan gerak yang ada di hulu.

“Sehingga struktur bangunan yang berada di bagian hulu sungail aman terhadap erosi,” kata dia di sela-sela “Sosialisasi Pembangunan Groundsill di Bojonegoro” di Lapangan Desa Padang, Kecamatan Trucuk.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo yang diwakili Kepala Bidang PJSA Bengawan Solo Heriantono Waluyadi ST. MT menyampaikan bahwa pembuatan groundsill ini untuk menyelematkan bangunan Bendung Gerak karena telah terjadi degradasi dasar sungai. Selain pembangunan groundsill akan dibangun pula revetment (tembok sayap sungai) baru dan perbaikan revetment yang rusak yang disebabkan oleh arus sungai bengawan solo.

“Jika tidak dibuat revetment akan terjadi kerusakan yang lebih parah lagi. Kita akan membangun groundsill pada 3 lokasi.Diharapkan ini dapat mengurangi dampak kerusakan bendungan gerak dan kegiatan ini bisa tepat waktu, tepat kualitas, tepat kuantitas,” jelasnya.

Abdullah, selaku konsultan (KSO) pembanguan Groundsill memaparkan lingkup pembangunan groundsill di Bojonegoro antara lain membuat kontruksi groundsill pada hilir bendung sebanyak tiga buah yakni perbaikan revetmen di hilir bendungan gerak dan pemasangan hexapod beton untuk mengembalikan dasar sungai.

Pembanguanan groundsill ini, lanjut dia, bertujuan menyelamatkan Bendung Gerak dikarenakan bendungan mempunyai tampungan untuk keperluan penyediaan air baku sebesar 13 Juta meter kubik untuk daerah Provinsi Jatim dan Jateng, yang terdiri Irigasi Pompa untuk Kabupaten Bojonegoro seluas 4.531 Ha, Kabupaten Blora 665 Ha.

Kemudian Penyedian Air Domestik dan Industri Bojonegoro sebesar 0,161 M³/dt, Blora 0,118 M³/dt, Industri minyak 0,800 M³/dt.

Abdullah mengatakan pembangunan groundsill diperkirakan memakan waktu kurang lebih 4 tahun dimulai tahun 2017 ini sampai dengan 2020.
Untuk itu pihaknya meminta dukungan dan partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya di tiga desa yaitu Desa Ngringinrejo, dan Leran, Kecamatan Kalitidu dan Desa Padang, Kecamatan Trucuk, guna lancarnya kegiatan tersebut.

“Karena ketiga desa ini merupakan Jalan masuk mobilisasi pembangunan groundsill. Tentunya jalan-jalan yang telah terbangun akan rusak nantinya, namun kita akan memperbaikinya. Kita juga akan membuka aduan, keluhan, masukan serta saran melalui no. 0817620306,” tutur Abdullah.

Bupati Bojonegoro, Suyoto menyampaikan pembangunan groundsill ini merupakan kabar gembira karena membantu mengurangi dampak kerusakan sungai yang salah satunya disebabkan oleh penambangan pasir.

“Kita harus mengapresiasi kerja dari pihak Kepolisian yang telah menangkap 35 orang penambang pasir ilegal. Setidaknya ini dapat mengurangi jumlah penambang pasir yang akan merusak lingkungan sungai. Selain itu juga akan menimbulkan efek jera,” sambung Suyoto.

Bupati yang akrab disapa Kang Yoto berharap pembangunan groundsill dapat membawa manfaat bagi kita semua. Karena itu semua pihak harus mendukung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang ingin membangun groundsill karena bisa mengurangi resiko bencana alam.

“Setidaknya resiko longsor di bantaran bengawan bisa dikurangi. Nanti apabila bendung gerak ini rusak dan tidak ada lagi sisanya, nanti apa yang kita ceritakan ke anak cucu kita,” ujar Kang Yoto.

Kang Yoto menceritakan kisah tentang negeri Saba, negeri yang terkenal kaya raya dan memiliki sumberdaya manusia yang sangat bagus dan banyak. Ilmuan mereka membuat bendungan untuk membendung air. Hal ini untuk menahan air agar tidak langsung mengalir.

Air bendungan tersebut, lanjut Kang Yoto, dapat digunakan untuk pengairan pertanian. Sehingga pertanian mereka makmur, rakyat sejahtera, negeri saba menjadi negeri yang maju dan menjadi negeri adidaya. Di penerus pertama masih menjaga kondisi sistem pemerintahan dan pertanian di negeri Saba. Tapi setelah penerus kedua memimpin hanya berpikir untuk menikmati hasilnya, tanpa memikirkan bagaimana merawat sehingga musibah menimpa mereka.

“Karena itu kita juga harus bisa merawat bendung gerak ini karena sudah menjadi ikon dan destinasi wisata di Bojonegoro. Kita harus bisa menjaga apa yang kita capai saat ini, dan meningkatkan lagi kedepannya. Mari kita bersama-sama membangun Bojonegoro tercinta, agar bisa lebih baik, lebih maju, dan lebih makmur,” pesan Kang Yoto.(*dwi/mcb)

Leave a Comment