Share

Bupati Bojonegoro Ziarah Ke Makam Bupati Rajekwesi

Bojonegoron, 18/10 (Media Center) – Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Suyoto ziarah di dua makam Bupati Rajekwesi yaitu Raden Adipati Djojonegoro di Desa Mojaranu, Kecamatan Dander dan Raden Tumengung Sosrodiningrat di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngluyu, Nganjuk, Selasa (17/10).

“Dua makam yang saya ziarahi ini tidak ada dalam daftar panitia HUT kabupaten,” kata dia, di sela-sela mengunjungi dua makam itu.

Sesuai kebiasaan yang sudah berjalan bahwa jajaran pejabat di daerah setempat setiap HUT kabupaten melakukan ziarah ke Makam Haryo Mentahun di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Andongsari, Kelurahan Ledokkulon, Mbah Bo Gadung di Desa Kauman, Lideran, Kelurahan Kadipaten, ketiganya di Kecamatan Kota.

Namun, menurut Suyoto, dirinya sengaja memiliki melakukan ziarah ke dua makam itu, karena keduanya merupakan pemimpin daerahnya sebelum berganti dari Rajekwesi menjadi Bojonegoro.

Bahkan, menurut dia, melihat sejarah Nganjuk, juga Madiun, di era Rajekwesi merupakan satu kesatuan wilayah di bawah Keraton Yogyakarta.

“Dalam sejarah keberadaan Raden Tumenggung Sosrodiningrat ada kaitannya dengan Keraton Yogyakarta,” kata dia menjelaskan.

Sesuai data Raden Tumenggung Sosrodiningrat menjabat sebagai Bupati Rajekwesi pada 1821-1823 sedangkan Rajekwesi Raden Adipati Djojonegoro menjabat sebagai Bupati Rajekwesi pada 1825-1827).

Menurut dia, di dalam sejarah bahwa Bupati Rajekwesi Raden Tumenggung Sosodiningrat merupakan bupati yang tidak bisa ditaklukkan Belanda.

Tetapi ada dua versi terkait pergantian Rajekwesi menjadi Bojonegoro yaitu Raden Tumenggung Sosrodiningrat kalah melawan penjajah Belanda atau pergantian itu merupakan hasil kompromi antara pihak Sosrodiningrat dengan Belanda.

“Dalam arti yang lain nama Bojonegoro sama dengan makan bersama,” ucapnya.

Dengan demikian, katanya, kedatangannya untuk ziarah ke Makam Raden Adipati Djojonegoro dan Raden Tumenggung Sosrodiningrat itu, dengan tujuan untuk mengambil semangat HUT ke-340 kabupaten yaitu “Bersatu Melangkah Untuk Maju”.

Menurut wakil juru kunci makam, Makam Raden Tumenggung Sosrodilogo hanya dikunjungi dari kerabat Keraton Yogyakarta pada hari-hari tertentu.

“Masyarakat umum tidak ada yang berkunjung,” ucapnya.

Makam itu, kata dia, memiliki juru kunci bernama Totoyitno (74) berdasarkan surat keputusan (SK) dari Keraton Yogyakarta.”Dulu sekitar tahun 2000 gajinya sebagai juru kunci berdasarkan SK Rp25.000 per bulan. Kalau sekarang kemungkinan sudah naik,” kata Kepala Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngluyu, Nganjuk Setiawan menambahkan. (*/mcb)

Leave a Comment