Share

Catatan Kang Yoto: Belajar Menghargai dan Memberi

Dalam perjalanan sepulang dari warung Mbah Min, seorang kawan yang juga anak buah, seperti memperoleh momentun untuk mengingatkan saya.

Dia anak orang kaya dan sudah lama jadi pejabat di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Ia mengingatkan kelamahan saya yang suka makan di sembarang tempat dan menjabat tangan semua orang yang saya temui.

Warung Mbah Min, warung sor waru (bawah pohon waru) begitu orang biasa menyebut, terletak disebuah dusun di Kecamatan Ngasem. Dindingnya hitam, tidak pernah dicat dan asap dapur terus mengepul, berlantai tanah, mejanya kayu tua hitam.

Istri Mbah Min berjualan kopi, tempe goreng dan nasi sayur. Harga kopinya Rp 2.000 secangkir, makan Rp 2.500 sepiring, murah sekali.

Sejak belum menjabat Bupati (2007) hingga periode ke-2 ini, saya masih sering mampir bila kebetulan lewat. Ketulusan Mbah Min dan istrinya dalam melayani siapapun saat bertemu para petani dan pedagang keliling, lalu duduk di bawah pohon waru sungguh membahagiakan.

Setiap ada yang datang, saya menjabat erat tangannya. Saya juga makan apa yang dijual Mbah Min.

Saat meninggalkan warung, dalam mobil, kawan saya kontan mengingatkan soal kesehatan dan soal kehormatan. “Janganlah bapak yang menjabat tangan mereka dahulu, biarkan mereka datang menjabat tangan pak Bupati,” katanya.

Pantas, tadi dia suka mengatur duduk orang yang datang agar tidak terlalu dekat denga saya. Hati berkata, kawan ini belum sepenuhnya memahami alasan saya memilih aktif menjabat tangan siapa saja, yang (mungkin) walau tangannya belepotan tanah sepulang dari sawah.

Kepadanya saya katakan: “Ini bukan soal Bupati, tapi soal diri sendiri yang ingin menyayangi, mendengar dan menyapa. Ini bukan soal bagaimana orang lain harus memperlakukan saya, tapi soal bagaimana saya memperlakukan diri sendiri. Soal bagaimana belajar berendah hati, menghargai dan ingin memberi.”

Menunggu mereka mengejar menjabat tangan, walau sama-sama berjabat tangan, rasanya berbeda. Diam menunggu jabat tangan, itu artinya saya yang diberi. Bila aktif itu artinya saya memberi.

Menerima itu sebuah kebahagiaan, tapi memberi itu ribuan kebahagiaan!

12 Jan 2014
KY

Leave a Comment