Share

Cerita Mantan Gafatar Asal Bojonegoro Yang Melahirkan di Kalimantan

Ny. Mariyatun (30), istri mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Kabupaten Bojonegoro, menceriterakan bahwa ia melahirkan anak keduanya di sebuah rumah sakit (RS) di Kalimantan Barat, pada 9 Januari lalu, atas biaya sendiri.

“Anak saya ini, dilahirkan melalui operasi sesar di Kalimantan Barat, atas biaya saya sendiri,” kata warga Desa Sukorejo, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro tersebut, ketika ditemui di Bojonegoro, Senin (25/1).

Anaknya yang lahir di Kalimantan Barat itu, merupakan anaknya yang kedua. Ia, lahir di sebuah rumah sakit (RS) di Kalimantan Barat, pada 9 Januari lalu.

Dengan demikian, ia yang berangkat bersama suaminya Sujarno (34), bersama anak perempuannya, Fatmala (8), sudah dalam keadaan mengandung. “Saya berangkat ke Kalimantan Barat, Desember lalu,” ucapnya, menambahkan.

Di Bojonegoro, sebanyak 11 warga mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), sempat menginap di rumah tamu Griya Dharma Kusuma (GDK) milik pemerintah kabupaten (pemkab).

Mereka dipulangkan ke Bojonegoro oleh Pemerintah, dari tempatnya bekerja di Desa Antibar, Kecamatan Tanjungdalem, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang dibakar massa, pada 19 Januari.

Dengan menumpang kendaraan roda empat, Camat Tambakrejo Ngasiaji, bersama kepala desa (kades) desanya, membawa Mariyatun, bersama keluarganya kembali ke desanya.

Hal serupa juga terjadi kepada mantan anggota Gafatar lainnya asal daerah setempat, yang juga langsung diantar camat dan kades di masing-masing asal mereka.

Salah seorang warga asal Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Matrais (54), menjelaskan bahwa keberangkatan 11 warga asal Kecamatan Tambakrejo, Kapas, Sumberrejo dan Kasiman, ke Kalimantan Barat adalah untuk memperbaiki nasib.

“Saya berangkat ke Kalimantan Barat untuk masa depan keluarga. Ketika berangkat saya menjual rumah yang laku Rp75 juta,” ucapnya, menegaskan.

Oleh karena itu, ia mengaku bingung ketika harus kembali lagi ke desanya, karena sudah tidak memiliki rumah.

Seorang mantan anggota Gafatar asal Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Ihsan (37), menjelaskan sebanyak 11 warga asal daerah setempat, di lokasi penampungan bekerja di berbagai bidang pertanian dengan menempati lahan gambut.

Karena kondisinya lahan gambut, maka air untuk minum sehari-hari di lokasi penampungan, warnanya ke merah-merahan, mirip jamu “gepyok”.

Ihsan mengaku berbeda dengan warga lainnya, karena duduk sebagai pengurus Gafatar Bojonegoro, bidang keamanan. Ia berangkat ke Kalimantan Barat, sekitar Agustus 2015, karena harus mempersiapkan lahan untuk lokasi tempat tinggal dan bekerja. “Lokasi yang kami tempati luasnya 42 hektare,” ucapnya, menegaskan.

Bupati Bojonegoro Suyoto, sebelumnya, mengimbau warga daerahnya bisa menerima mantan anggota Gafatar di daerahnya yang kembali ke desanya masing-masing. “Anggaplah ini saudara-saudara kita yang mendapatkan musibah, rumahnya dibakar dan terusir,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan pemkab membantu modal kerja masing-masing Rp5 juta/KK dan Rp2,5 juta/KK, untuk empat kepala keluarga (KK) warga (11 jiwa) mantan gafatar itu.

“Dua KK kita bantu modal kerja masing-masing Rp5 juta, karena tidak memiliki rumah, sedangkan dua KK lainnya Rp2,5 juta/KK, karena masih memiliki rumah,” jelas dia.

Menurut dia, di lokasi tempatnya bekerja, pemukiman mereka dibakar massa, termasuk harta bendanya, sehingga yang tersisa hanya tinggal baju di badan. (mcb)

Leave a Comment