Share

Cerita Turmuzi, Peraih Kalpataru yang Hijaukan Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – Tidak banyak masyarakat yang sadar akan kelestarian alam dan lingkungan sekitar saat ini. Tidak jarang, dengan alasan memenuhi kebutuhan hidup, warga sekitar merobohkan pepohonan di seluruh hutan.

Melihat fenomena ini, Turmudzi (40), warga Jalan Monginsidi Gg III, Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, Jawa Timur, untuk memperbaiki kondisi alam yang rusak, tandus, dan kritis seorang diri.

Sebuah piala dengan bola bening di atasnya nampak dipegang oleh pria yang bertahun-tahun menghijaukan bumi Bojonegoro. Tidak ada rasa bangga sedikitpun dalam hati. Kalpataru yang diterimanya pada Hari Lingkungan Hidup pada 5 Juni lalu ini justru menjadi beban sekaligus penyemangat baginya. Pengabdiannya selama ini kepada alam, bukan untuk mendapat penghargaan, tapi dukungan dari semua elemen dari pemerintah sampai masyarakat.

“Penghargaan ini harus saya jaga dengan sebaik-baiknya, jangan sampai gelar yang saya sandang tidak sesuai dengan perilaku sehari-hari,” ujarnya menerawang.

Pria yang mulai beruban ini menunjukkan taman kecil miliknya. Taman yang terletak di samping rumah itulah yang mengantarkannya meraih penghargaan atas jasanya yang telah melestarikan lingkungan hidup.

Betapa tidak, meskipun pekarangan itu hanya berupa sepetak tanah, namun ditempat inilah ribuan benih-benih pohon yang dibuat sendiri telah membuat rimbun tanah kering. Tanah-tanah yang kering itu tersebar di beberapa wilayah Bojonegoro, seperti Desa Banjarsari maupun di Desa Bubulan.

Tidak hanya itu, seluas 29 hektar lahan kritis di Desa Soko, Kecamatan Ngasem, Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Soko, bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tengger yang terletak di sekitar Wisata Kahyangan Api telah disulapnya menjadi lahan produktif kembali.

Masih segar ingatannya, ketika melihat lahan yang luas namun terlihat mengenaskan. Dengan sigap, membawa traktor miliknya yang menjadi mata pencahariannya sebagai penyewa alat berat, pria paruh baya ini meratakan ilalang yang menjadi gulma.

Dengan sistem demplot, yakni sebaris tanaman jati dan sebaris tanaman sinkong, akhirnya tanaman bisa tumbuh subur dan lahan yang mulanya kritis menjadi normal kembali. Bahkan, masyarakat yang awalnya berkonflik dengan perhutani perlahan-lahan ikut serta memanfaatkan tanah dengan benar.

“Waktu itu, Perhutani menyambut baik niat saya. Akhirnya kerjasama dengan sistem Perhutani yang menyediakan solar untuk traktor saya, lainnya saya sendiri,” cerita Turmudzi.

Pria yang membuat komunitas bernama Cahaya Alam Hijau di salah satu sosial media ini tidak pernah menghitung berapa rupiah yang telah dikeluarkan untuk menanami lahan-lahan kritis di wilayah pegunungan dan dataran tinggi dengan pohon jenis Sengon, Trembesi, dan Jati.

Padahal, lanjut bapak dua anak ini, sejak pertama kali melakukan persemaian benih tahun 2001 silam, membutuhkan sekitar 1000 sampai 2000 bibit pohon dengan menelan biaya sekitar Rp 300.000 tiap lokasi.

“Itu 15 tahun yang lalu, kalau sekarang ya mungkin lebih dari itu,” katanya tanpa menyebut pasti berapa nilai nominalnya.

Pria yang masa mudanya hobi berburu ini merasa senang dan puas dengan hasil jerih payahnya selama ini. Karena dengan ratusan pohon yang tumbuh subur di Desa Banjarsari, bisa menghasilkan sumber mata air meskipun memasuki musim kemarau.

“Sekarang usia saya sudah tidak muda lagi, saya hanya bisa berbuat semampu tenaga saja,” ujarnya.

Meskipun begitu, tidak surut semangatnya untuk melestarikan alam. Sudah tidak terhitung lagi berapa puluh bibit pohon baik sengon, trembesi maupun jati yang ditanamnya. Dari pekarangan yang kosong hingga lahan pegunungan yang tandus. Niat hati ingin menghijaukan semuanya, namun apa daya. Ratusan hektar bukan ukuran yang kecil dibanding kemampuannya membuat benih pepohonan.

Hanya harapan dan doa, semoga tangan-tangan pemerintah dan masyarakat bisa ikut berjalan beriringan melestarikan lingkungan. Menanami kembali lahan yang mulai tandus, mengering, bahkan kritis.

“Seperti di Gondang, saya hanya mampu menabur benih semampu saya. Tidak mungkin ratusan hektar itu saya semua yang menanaminya,” tukasnya.

Piala Kalpataru masih dipegangnya dengan erat, sambil mengisahkan usahanya yang lain untuk melestarikan alam. Tidak hanya dengan menanam, tapi melestarikan burung jenis Dekukur, Perkutut, dan Parkit yang jumlahnya mulai menurun, terutama di wilayah Kota Bojonegoro.

Sejak 15 tahun yang lalu, saat insyaf dengan hobi berburunya, Turmudzi merasa sedih dengan berkurangnya populasi burung di Tempat Penyimpanan Kayu (TPK). Lokasi yang dulunya merupakan garasi kendaraan-kendaraan besar milik Belanda pada jaman penjajahan itu kini tampak teduh dan asri ditambah dengan burung hasil budidayanya yang dilepasliarkan di wilayah itu.

“Saya setiap tahunnya melepas 70 sampai 100 ekor jenis burung. Selama berpuluh tahun mereka berkembang biak dan menjadi banyak seperti sekarang ini,” tandasnya.

Dengan dukungan kepala TPK yang kini dibawahi oleh Perhutani, suami dari Yulianawati ini dengan leluasa merawat burung-burung tersebut. Hanya dengan menyiapkan pakan burung sekenanya, memasang plang peringatan “Dilarang Berburu”, sekarang populasi burung yang sempat berkurang semakin lama semakin bertambah.

“Sampai sekarang saya masih melakukan itu. Melepas puluhan burung dan memberi pakan di TPK,” tukasnya.

Penghargaan ini tentu suatu hal yang membanggakan. Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Tedjo Sukmono, bersyukur ada pelopor peraih Kalpataru di Bojonegoro. Berharap, apa yang diraih oleh Turmudzi ini dapat dipertahanankan dan menjadi contoh baik bagi masyarakat lainnya.

“Terutama generasi muda, yang seharusnya bisa menjadi Turmudzi selanjutnya,” pungkasnya.(dwi/*mcb)

Leave a Comment