Share

Dampak GDSC,Kemiskinan Di Bojonegoro Menurun

Bojonegoro, 6/7 (Media Center) – Dampak program  Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDSC) mulai dirasakan. Salah satunya adalah BPS yang menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Bojonegoro mengalami penurunan.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, saat Rapat Koordinasi Pembangunan Desa yang digelar hari ini di Pendopo Malwopati Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Rabu (5/6) pagi tadi, menyatakan, dari data BPS dimana jumlah penduduk miskin di Bojonegoro mengalami penurunan.

Pada tahun 2016 jumlah penduduk miskin di Bojonegoro 19.399 jiwa kini menjadi 18.099 jiwa atau menurun 1.300 jiwa . Tak hanya itu,  sejarah kemiskinan yang selama ini berkutat di 10 besar daerah miskin di Jawa Timur. Ditahun ini  berhasil keluar dari 10 besar daerah miskin.

Ditahun 2008 kita termasuk 3 besar daerah miskin kemudian ditahun 2015 kita peringkat 8 besar dan ditahun 2016 ini berhasil keluar dari 10 besar kabupaten miskin di Propinsi Jawa Timur.

“Namun ini tak membuat kita berpuas diri, menurut Bupati, GDSC menjadi salah satu faktor yang mampu meningkatkan kemampuan warga Bojonegoro,” imbuhnya.

Karena GDSC ini memiliki fokus pada penurunan kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro.

Salah satu intervensi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah dengan alokasi anggaran dibidang kesehatan khususnya pembiayaan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang mencapai 60 milyar rupiah setiap tahunnya.

Bupati berpesan kepada pemimpin masa depan nantinya untuk tak menghapus program ini hanya karena pergantian tampu kepemimpinan. Jangan dinilai karena siapa yang membuat program ini akan tetapi bahwa masyarakat masih membutuhkan.

“Kita harus menjaga agar warga kita yang rentan miskin tidak jatuh di kondisi miskin hanya karena habis untuk biaya pengobatan karena sakit,” tukasnya.

Hal lain yang membuat geliat ekonomi di Bojonegoro adalah dimana daya beli masyarakat kita meningkat dengan adanya Dana Alokasi Khusus (DAK) dibidang pendidikan yang dikucurkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Hal lain adalah dimana pergerakan sektor UMKM, wisata dan industri masuk desa juga turut serta menggeliatkan ekonomi di sektor pedesaan. Bupati mengakui bahwa jika hanya bersandar pada sektor pertanian maka akan berat. Karena banyak penduduk kita yang mengaku petani akan tetapi tidak memiliki lahan. Hal lain adalah investasi yang masuk di desa menjadi salah satu faktor pemicu.

Karenanya Bupati mengharapkan agar semua tidak menutup diri atau menghalangi pihak yang akan melakukan invetasi diwilayah Bojonegoro. Apalagi pemerintah sudah sedemikian welcome terhadap investasi.(dwi/mcb)

Leave a Comment