Share

‘Dapur’ Demokrasi Bojonegoro Menarik Dunia

Iklim demokrasi di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, telah mendapat pengakuan di mata internasional. Sejumlah media massa nasional, forum-forum demokrasi tingkat internasional, telah membahas dan menjadikan suasana demokrasi di Kabupaten Bojonegoro sebagai salah satu fokus perhatian mereka

Bojonegoro (Media Center) – Iklim demokrasi di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, telah mendapat pengakuan di mata internasional. Sejumlah media massa nasional, forum-forum demokrasi tingkat internasional, telah membahas dan menjadikan suasana demokrasi di Kabupaten Bojonegoro sebagai salah satu fokus perhatian mereka. Berikut adalah kutipan artikel-artikel yang membahas mengenai hal tersebut diatas:

SATUHARAPAN.COM
Kamis, 24 April 2014
Penulis: Kris Hidayat
Editor: Bayu Probo

Kunci Toleransi di Bojonegoro: Bupati Melayani

“Saya ini sering ikut perayaan agama lain. Awalnya ya saya dikritik. Sampai ada yang memberi tahu ibu saya dan bilang saya murtad. Saat ditanya ibu saya, ya saya tersenyum saja dan menjelaskan dengan santun. Saya ini bupati, yang tugasnya sebagai pelayan semua kalangan dan agama yang ada di Bojonegoro. Saya ini ibarat supir angkutan umum. Penumpang saya beragam, tapi kita semua tujuannya sama, yaitu kesejahteraan dan keadilan. Jadi saya harus bisa menyetir angkutan umum ini ke arah yang benar agar sampai tujuan. Lama kelamaan warga memahami saya kok dan bahkan mencontoh saya” kata Bupati Bojonegoro, Jawa Timur Suyoto dalam perbincangan di Program Agama dan Masyarakat di jaringan portalkbr.com, di Jakarta, Rabu, (23/4).

Suyoto mengatakan, “Saya nyaman bergaul dengan semua agama. Ini menurut saya aplikasi keislaman saya. Bukan berarti murtad.” Menurut pria kelahiran Bojonegoro, 17 Pebruari 1965 itu, beragama Islam tidak lantas membuatnya mengabaikan agama lain. Suyoto mengaku menemukan kenyamanan ketika berbaur dengan umat agama lain, seperti saat hadir dalam perayaan hari besar agama mereka. Pria yang akrab dipanggil Kang Yoto ini dikenal sebagai tokoh penebar toleransi di wilayahnya.

Di Bojonegoro, Jawa Timur, Kang Yoto lahir dari lingkungan Muhammadiyah yang merupakan kalangan minoritas di wilayah tersebut. Sejak kecil dia belajar untuk menghargai perbedaan di daerah dengan keberagaman yang cukup kental itu.

“Di Bojonegoro itu sangat plural. Ada Islam, Kristen, orang Tionghoa, Islam yang dipengaruhi kultur Hindu, seperti abangan juga ada. Ya, berbagai agama dan pandangan kepercayaan ada,” ujar Kang Yoto.

Saat terpilih menjadi bupati, Kang Yoto bertekad mensejahterakan warganya. Salah satunya dengan meminimalisir potensi konflik di masyarakat. Prinsip yang dianutnya adalah keadilan sosial. Menurutnya konflik berbau SARA itu hanya akan ada ketika keadaan suatu masyarakat tidak sejahtera. Dia pun mulai memetakan masalah apa saja yang ada di Bojonegoro, termasuk masalah persinggungan warga terkait perbedaan agama dan ras. Prioritas pembangunan daerah dia tujukan untuk semua kalangan, bukan kelompok tertentu saja.

“Pembangunan di Bojonegoro saya prioritaskan ke fasilitas yang memang bakal digunakan semua orang. Bukan yang untuk kalangan tertentu saja. Misalnya jalan. Jalan ini kan semuanya pasti lewat. Mau Kristen, Islam, Hindu, Cina, siapapun pasti menggunakannya. Pernah saya dikritik tidak mendahulukan pembangunan masjid. Ya, saya beri pengertian kalau asas keadilan untuk semua harus didahulukan,” ujar dia.

Setelah memetakan masalah yang ada, Kang Yoto menemukan beberapa kebiasaan atau mentalitas warga yang tidak baik. Salah satunya adalah mentalitas meminta. Kata dia, “ini harus diubah menjadi mentalitas produktif dan menghasilkan. Imbas dari mudah meminta adalah warga jadi tidak mandiri dan bergantung terhadap sesuatu.” Akhirnya dia menggalakkan warganya untuk bisa membuat usaha. Apapun itu.

“Mentalitas meminta ini yang saya temukan. Di semua agama ini kan ada juga mentalitas yang cenderung seperti ini. Ya, harus ada transformasi sosial. Warga Bojonegoro harus bisa jadi produsen dan mandiri. Menggiatkan warga dengan berbagai kegiatan ini juga salah satu cara untuk menghindari konflik karena adanya perbedaan,” jelas kang Yoto.

Resep toleransi Kang Yoto

Resep yang dilakukan Kang Yoto adalah menyebarkan semangat demokrasi dan musyawarah. Selalu mengedepankan dialog damai untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pendapat. Menurut dia, komunikasi sangatlah penting. Banyak kasus kekerasan antar agama dan ras karena komunikasi tidak berjalan. Selain itu niat baik dan cara pandang juga menjadi faktor penting dalam menyikapi berbagai potensi konflik.

“Kalau saya melihat kasus seperti larangan bangun rumah ibadah atau apapun itu konflik agama di luar sana itu tergantung bagaimana cara pandang kita dan niat kita. Peraturan yang ada bukanlah penentu. Misalnya ada aturan yang mungkin dinilai masih banyak celahnya, tapi kalau pihak yang bertikai punya niat baik, toleransi dan memandang aturan sebagai mekanisme pemersatu, ya pasti konflik tidak akan terjadi. Sebaliknya juga, walaupun ada aturan yang sudah bagus, tapi kalau tidak ada niat baik, ya pasti bakal tetap dicari celahnya dan efeknya ya konflik bakal terjadi,” tutur Kang Yoto lebih lanjut.

Menurut Kang Yoto, langkah awal suksesnya masyarakat yang damai dan bertoleransi adalah dengan membuat masyarakat tersebut saling percaya. Ketika kepercayaan satu sama lain sudah terbangun, maka perbedaan bukanlah ancaman. Pluralisme bisa dijalankan dengan damai. Salah satu caranya, yaitu dengan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Mencontohkan dan menjelaskan tindakan kita yang menjunjung semangat toleransi. Suyoto yakin perlahan masyarakat akan memahami pentingnya sikap toleransi tersebut.
PORTALKBR.COM
Kamis, 24 April 2014
Penulis: Arin Swandari
Editor: Citra Dyah Prastuti

Bupati Bojonegoro: Sebagai Pejabat Publik, Saya Ini Sopir Bus Umum

Di Bojonegoro, Jawa Timur, indahnya perbedaan dijaga betul oleh sang bupati. Bupati Bojonegoro Suyoto biasa cermaah di gereja setiap Natal, hadir di setiap undangan Imlek, bahkan ikut menari Tayub, sebuah tarian yang dianggap sebagai tarian yang tabu oleh sebagian Muslim.

Suyoto, yang biasa dipanggil Kang Yoto, adalah bupati dari kalangan Muhammadiyah. Dia juga yang turun tangan langsung membereskan Izin Mendirikan Bangunan IMB gereja yang terkatung-katung selama beberapa tahun.

Apa saja nilai toleransi lain yang disimpan oleh sang bupati? Arin Swandari berbincang lebih jauh dengan Kang Yoto di program Sarapan Bersama yang disiarkan KBR68H, TV Tempo dan PortalKBR.

Anda sering pidato di gereja, juga membereskan IMB gereja yang terkatung-katung selama beberapa lama. Padahal Anda seorang Muhamadiyah. Apa orang-orang yang selama ini kenal Anda?

“Sebagai pejabat publik saya ini sopir bus umum. Sopir bus umum itu penumpangnya macam-macam ya saya harus lihat itu adalah penumpang saya, lalu saya merasa justru inilah cara saya berislam dan ber-Muhammadiyah. Saya menjadi pelayan bagi semua orang, spirit saya adalah bagaimana mencintai dan menyayangi semua orang, saya merasa senang sekali rakyat saya bahagia dan merasa terhormat menjadi pelayan mereka.”

“Karena itulah kemudian saya merasa mendapatkan reward yang baik dari rakyat saya ketika saya jujur mengatakan saya Muhammadiyah. Di situ 78 persen orang NU bisa menerima mendukung saya menjadi bupati. Kemudian karena saya diterima apa adanya maka saya juga harus mengatakan dengan sejujur-jujurnya tentang visi hidup saya. Karena kepercayaan itu membuat saya nyaman, betul-betul menjadi seorang kepala daerah yang harus merepresentasikan Undang-undang, merepresentasikan keindonesiaan karena memang saya rahmatan lil ‘alamin.”

Termasuk Anda mentasbihkan atau semacam melantik pendeta?

“Memang tadinya agak aneh kalau ada bupati itu datang di tayuban karena dianggap budaya non santri. Saya datang di situ kemudian ada undangan kelenteng macam-macam saya ikut pakai baju merah mereka, ikut merayakan itu tadinya dianggap aneh. Tapi ini umat dan rakyat saya, itulah bagian dari membangun nasionalisme dan keindonesiaan supaya merasa menjadi bagian dari Indonesia. Ketika umat kristiani mengundang saya natal bersama mungkin awalnya ragu, saya datang. Terus kemudian setiap ada natal bersama saya datang, belakangan bukan hanya natal bersama komunitas kadang-kadang bikin Natal ya mengundang saya, sepanjang saya bisa ya saya datangi.”

Anda pidato di situ?

“Bahkan ketika ada pentahbisan pendeta, romo, saya diundang di gereja dan saya pidato di situ. Jadi dalam setiap forum saya pidato memberikan sambutan.”

Pidato Anda tentang apa biasanya kalau di gereja?

“Saya selalu cerita bahwa saya bersyukur menjadi orang Bojonegoro karena saya bisa melayani kita semua. Selalu temanya tema kasih sayang dan saya merasa apa yang saya kerjakan ini adalah bagian dari cara saya untuk mengejawantahkan kasih sayang terhadap sesama. Karena kasih sayang itu hakekatnya adalah memberi bukan menerima, kasih sayang itu melayani. Karena itulah kita harus saling memberikan maaf, melayani. Saya sungguh terenyuh ketika suatu saat saya turun dari situ ada ibu-ibu jabat tangan saya, dia bilang pagi dan sore kami selalu mendoakan Kang Yoto.”

Di Bojonegoro ada komunitas Samin seperti di Blora dan Kudus. Di wilayah itu mereka dipaksa untuk bisa mengakui suatu agama, bagaimana Anda menjamin itu tidak terjadi?

“Samin itu komunitas yang dia punya paham, pandangan. Akar kultural Samin itu sebenarnya adalah hinduisme Majapahit, kemudian bertemu dengan Mataram. Karena itu orang Samin bentuk kegagahannya itu adalah gaya Majapahit tapi mengalami pelembutan setelah ketemu Mataram. Orang Samin ini sangat menjunjung tinggi dari sisi harmoni, kemandirian, dan kejujuran. Kebetulan saya bersahabat dengan komunitas ini, saya sering ke sana lihat embungnya lihat ini.”

“Jadi si Bojonegoro ini kebetulan akar sejarahnya itu adalah pertemuan dari berbagai konflik kekuasaan. Karena mungkin hidupnya berada di akar konflik semuanya, bayangkan pertemuan antara Majapahit dengan Demak itu Bojonegoro, Demak berubah menjadi Pajang ya di Bojonegoro ada imbasnya, Pajang menjadi Mataram ada imbasnya. Karena itulah orang Bojonegoro menjadi sangat toleran secara kultural, orang Samin itu tidak pernah mengatakan itu agama. Jadi mereka punya mesjid ya tetap saja mereka muslim, mereka nyaman-nyaman saja dengan caranya kemudian dia tetap mengajarkan tentang kejujuran. Anak-anak generasi mudanya yang mengerti tentang Islam karena mereka umumnya muslim mulai mereka kemudian memberikan tafsir-tafsir bahwa kejujuran diajarkan oleh agama.”

Bagaimana Anda merawat kearifan orang-orang Samin?

“Bahkan desanya saya jadikan desa budaya. Kemudian walaupun di tempat saya sentranya kecil, masih banyak pengikutnya mungkin cara berpikir saya Saminisme misalnya saya bikin Perda konten lokal walaupun bertentangan dengan peraturan menteri. Saya bikin saja kalau mau hapus ya hapus saja tapi saya tidak punya cara kecuali ini, lebih baik terbuka begini karena itu bagian dari kejujuran.”

Apa isi Perda tersebut?

“Lokal konten. Itu mengatur soal kawasan mana yang boleh dikelola untuk kawasan migas, mengatur bagaimana memberi peluang rakyat saya untuk bekerja di situ untuk bisa berbisnis. Itu dianggap lokal itu lokal Indonesia, saya bilang ini namanya pemberdayaan lokal karena harus pendekatan sosialnya. Karena kalau sosial nanti tidak nyaman, tidak enak nanti berbahaya juga untuk kepentingan bersama-sama. Jadi kalau saya sering bilang bahwa lebih baik dengan pendekatan bikin orang bahagia semua daripada kita membuat represi. Karena kalau represi nanti ledakannya menjadi bahaya kalau konflik. Tapi cara ekspresinya gaya Samin, sudah tahu tidak boleh ya bikin saja.”

Kabarnya Anda juga mempersilahkan pendopo kabupaten untuk tempat perayaan Imlek. Bagaimana ceritanya?

“Itu ceritanya di Bojonegoro kebetulan komunitas Tionghoa besar ya. Karena dulu Lasem Jatirogo kan dekat, tiba-tiba mereka ada konflik kepengurusan tempat ibadah mereka. Karena itu mau menyelenggarakan imlek bersama menjadi susah, biasanya pertemuan itu di aula mereka kemudian tidak nyaman karena masih konflik. Akhirnya kalau begitu silahkan saya undang semua, karena banyak yang datang ke saya mau bikin imlek. Kan yang imlek tidak hanya orang Konghucu bisa semua agama, itu kaum etnis bukan agama. Saya undang silahkan bentuk panitia, saya suruh pilih tempat mana yang paling bagus ternyata memilih pendopo ya sudah pakai saja pendopo. Akhirnya jadilah pendopo tempat perayaan imlek dengan segala warna warninya.”

Leave a Comment