Share

Desa Panjunan Bojonegoro Masuk 100 Desa Terbaik di Indonesia

Bojonegoro, 17/7 (Media Center) – Kementerian Desa, Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi telah merilis 100 desa terbaik, dimana salah satunya adalah Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur dengan kategori Maju Mandiri .

Kepala Desa Panjunan, Suhariyati, mengaku kaget jika desanya mendapat predikat 100 desa terbaik tingkat nasional.

Selama ini, dalam memimpin desa, pihaknya hanya memiliki tekad untuk menciptakan banyak lapangan kerja dan semua bisa meningkat kesejahteraannya.

“Tekadnya bisa memajukan desa, tapi malah dapat predikat 100 desa terbaik tingkat nasional,” ujarnya.

Selama ini, kondisi desa Panjunan sangatlah miskin sehingga ada keinginan untuk merubah ekonomi rakyatnya dengan kondisi tingkat penganguran yang tinggi dan kondisi desa yang kumuh.

“Bagi saya, bekerja dengan hati dan menjalankan semua program dengan landasan untuk masyarakat.” tandasnya.

Karenanya di tahun pertama kepemimpinannya infrastruktur menjadi prioritas yakni jalan mulai lingkungan sampai gang dan pelosok harus tertata rapi dan layak dilalui , kemudian penataan kawasan untuk memunculkan geliat ekonomi, pembangunan tembol penahan tanah dibeberapa titik yang kini hampir mengelilingi desa Panjunan.

Infrastruktur tuntas, maka beralih kepada peningkatan kualitas kesehatan dan sanitasi lingkungan. Jika beberapa desa memberikan stimulan closet, maka kebijakannya dengan membangunkan jamban untuk keluarga kurang mampu secara total, kemudian mengedukasi warga untuk tidak melakukan aktifitas MCK di sembarang tempat.

Kini 100 persen ODF mampu diraihnya, pembangunan TPS di lingkungan yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah dan membangun TPA dengan ukuran 25 m x 40 m.

Adanya TPA ini, menurut Suhariyati, membuat dirinya mengembangkan Bank Sampah yang kini sudah diberdayakan secara optimal. Sisi infrastruktur lain adalah dengan adanya PJU sejumlah 58 titik diseluruh Desa Panjunan, saat ini dirinya sedang membangun taman dan tempat bermain anak yang ada di sekitar lapangan.

Serta sarana olah raga hal ini sejalan dengan 4 prioritas penggunaan dana desa sesuai Permendes  Nomor 22 Tahun 2016.

Sementaara dari sisi anggaran, selain dari DD dan ADD sumber keuangan dari desanya adalah dengan mengintensifkan sektor pendapatan desa antara lain dengan lelang tanah bengkok, lelang tambangan, lelang tanah kemenangan serta BUMDes.

“Semua aset desa dilelang kemudian uangnya digunakan untuk membiayai semua program,” tandasnya.

Satu hal yang ditekankan kepada perangkat desanya, bahwa amanah menjabat ini adalah dari rakyat bukan semata mata untuk kepentingan perseorangan atau kelompok.

Kesadaran ini benar-benar ditanamkan kepada jajarannya. Bahkan ketika ada investor atau pihak yang ingin membangun suatu unit usaha, dirinya akan memberi kemudahan dengan persyaratan bahwa tenaga kerjanya adalah harus warga panjunan.  Kini dengan adanya perbub yang baru, maka irigasi akan dikelola oleh BUMDes yang akan diatur dan menambah sisi pedapatan asli desa.

Kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan di Desa Panjunan ini adalah rehab rumah tidak layak huni khusus warga kurang mampu dan plesterisasi yang sudah 18 rumah warga. Insentif untuk kader mulai kader lingkungan, kader jumantik, kader taman posyandu, kader pendamping kejiwaan dan kader kader lainnya. Untuk kader pendamping kejiwaan ini, lanjut Suhariyati, adalah bentuk keprihatinannya karena 9 warga didesanya mederita gangguan jiwa.

Kader ini dilatih dan mendapatkan sertifikat, dan sembilan warga yang menderita gangguan jiwa, didampingi, diobatkan dan dicarikan pekerjaan serta tetap di awasi hingga kini. Alhamdulilah sebagian besar diantara mereka bisa hidup layak dan bekerja. Tak hanya ibu hamil, balita dan lansia, untuk warga kurang mampu di wilayahnya yang meninggal dunia kelengkapan jenasah seperti kain kafan akan diberikan secara cuma-cuma.

Semua dilakukan semata mata untuk memberikan layanan yang baik dan mengangkat derajat kehiduapan warganya. Menanggapi desanya mask 100 desa terbaik, Suhariyati menyatakan bahwa masih belum percaya, karena baginya bekerja, program dan semua yang dilakukan adalah dalam upaya melayani rakyat yang telah memberikan amanah.

Secara kasat mata, saat Tim Humas menyambangi Desa Panjunan tak ada perubahan yang sangat berarti namun penataan kawasan, jalan lingkungan yang berpaving, bersih dan saluran irigasi yang tertata rapi.

Bahkan balai desa tak semegah desa desa lain balai desa yang menjadi titik pemerintahan tampak sederhana. Pembangunan bukan ditandai adanya bangunan megah, atau gapura indah yang tampak mentereng. Perubahan pola pandang hidup, empati, peduli dan saling memiliki jauh lebih penting.

“Desa panjunan adalah salah satu desa yang tampak diam dan sepi namun ramai akan program dan karya,” pungkasnya.(*dwi/humas/mcb)

Leave a Comment