Share

Di Bojonegoro, Wapres Dijelaskan Proses Pembangunan Jalur Ganda

Satu-satunya hambatan yang hingga kini masih terjadi adalah mengenai pembebasan lahan di lintasan antara Kandangan – Pasar Turi

Bojonegoro (Media Center) – Hari pertama kunjungan Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Boediono, di Bojonegoro Jawa Timur (24/4/2014) berbagai agenda telah dilakukan. Diantaranya adalah meninjau langsung kondisi jalur kereta api ganda (double track) serta pengoperasiannya. Disambut oleh Panglima Daerah Militer (Pangdam) V Brawijaya, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur dan Bupati Bojonegoro bersama jajaran forum pimpinan daerah, termasuk ketua dan wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro, rombongan tiba siang tadi 14:20 dengan menggunakan Kereta Luar Biasa (KLB) gerbong Kapuas.

Saat tiba di Stasiun Kota, rombongan disuguhi foto-foto dan video dokumentasi pengerjaan jalur ganda Cirebon-Surabaya. Tampak dalam rombongan diantaranya adalah Dirjen Perhubungan dan Dirjen PT KAI, yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Grafik Kereta Api (Gapeka) 2014 oleh Ditjen Perkeretapian Hermanto Dwi Atmoko. Dalam penjelasannya, Dwi Atmoko mengatakan bahwa pengerjaann jalur ganda ini dimulai sejak 10 Desember 2013 yang lalu.

Pengerjaannya sendiri meliputi wilayah Cirebon, Kediri, Semarang, khusus untuk jalur sepanjang 60 km di Tegal, pengerjaanya dimulai pada Tahun 2007 dan berhasil diselesaikan ada 2012 lalu. Sementara untuk jalur Semarang pengerjaanya membutuhkan waktu sekitar 2 tahun, yakni sejak 2012 -2014 dengan total panjang sejauh 90km, sehingga dari Tegal hingga Semarang pembangunan jalur ganda ini telah menyelesaikan lintasan sepanjang 150 km. Termasuk pembebasan lahan seluas 22 hektar, jalur terakhir adalah dari Semarang sampai Bojonegoro, dengan total panjang sejauh 208 km, yang target pengerjaannya adalah 16 bulan, namun berhasil diselesaikan selama 14 bulan.

Pembangunan jalur ganda ini juga harus memindahkan posisi jarak antara rel dengan Bengawan Solo, yang secara geografis menjadi lebih besar atau melebar. Dengan perubahan ini, dijelaskan nantinya KA yang melintas tak perlu lagi mengurangi kecepatannya.

Dalam mengerjakan jalur ganda ini, menggunakan tenaga kerja yang mayoritas berasal dari Cirebon, Pekalongan, Kediri dan Semarang. Dengan sistem bergerak (berpindah-pindah) pekerjaan besar pembangunan rel ganda ini relatif terbilang sukses. Satu-satunya hambatan yang hingga kini masih terjadi adalah mengenai pembebasan lahan di lintasan antara Kandangan – Pasar Turi.

Dwi Atmoko juga menjelaskan, sisa pengerjaan jalur ganda Babat-Kandangan-Pasar Turi, diharapkan akan dapat diselesaikan pada akhir bulan Mei mendatang. Menurut Dwi Atmoko, dengan selesainya jalur ganda ini akan ada penambahan kereta 2 kali lipat, sebelumnya jalur Surabaya-Jakarta hanya dilintasi oleh 90 KA per hari, dengan adanya jalur ganda ini otomatis menjadi 180 KA. (*/tinmcb)

Leave a Comment