Share

Dinas ESDM: Flaring Mati Blok Cepu Tak Timbulkan H2S

Bojonegoro (Media Center) – Adanya kegiatan gas suar bakar atau flaring di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dikarenakan alat untuk mengijeksikan gas belum siap. Sementara produksi minyak harus terus berlangsung untuk memenuhi kebutuhan nasional.

“Masyarakat tidak perlu khawatir kalau flaring di Blok Cepu tiba-tiba mati, tidak akan mengeluarkan gas beracun seperti H2S,” kata kasi Pertambangan dan Migas, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadang Aris, Jumat (9/10).

Dia menambahkan, munculnya H2S bersumber dari produksi minyak berjalan namun flaring tidak berjalan dengan lancar.

“Kejadian di Blok Cepu yang pernah terjadi, flaring dalam kondisi mati, produksi minyak juga berhenti,” lanjutnya.

Menurutnya, hal ini tidak berbahaya lantaran tak ada gas H2S yang keluar karena sistem pengeboran juga berhenti. Sistem flare yang saat ini berlangsung merupakan sistem pengaman dari gas yang keluar saat minyak diproduksi.

“Kebocoran H2S pernah terjadi di Lapangan Sukowati, kalau di Blok Cepu belum pernah,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Unit Percepatan Proyek Banyu Urip Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di Bojonegoro Julius Wiratno mengatakan puncak produksi minyak di Blok Cepu sebesar 200 ribu barel/hari akan terealisasi pada akhir 2015.

“Saat ini produksinya mencapai 80.000 ribu barel/hari,” tandasnya.(dwi/*mcb)

Leave a Comment