Share

Dinas Peternakan Bojonegoro Waspadai Flu Burung

Bojonegoro, 2/2 (Media Center) – Ternak unggas di dua Kecamatan di Kabupaten Bojonegoro terserang virus flu burung. Dua kecamatan tersebut yakni Kecamatan Kanor dan Kecamatan Kedungadem. Sedikitnya sudah ada 380 unggas yang dilaporkan mati akibat terjangkit virus flu burung. Virus mematikan bagi hewan unggas tersebut mulai menyerang sejak Desember 2017 lalu hingga kini.

 

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Bojonegoro, Sugiharti S. Rahaju, mengungkapkan, penyebaran vius flu burung tersebut awalnya menyerang peternak unggas di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor. “Karena sudah telat saat melapor sehingga virusnya menyebar,” ujarnya

 

Di Kecamatan Kanor, virus flu burung menyebar di empat peternak. Diantaranya ternak milik Mahfud, dari 400 ekor ayam petelur sebanyak 105 ekor mati, kemudian ternak milik Fajar Mahmudi, dari jumlah 600 ekor ayam petelur mati 60 ekor, milik peternak Sulkan Imron, dari jumlah ternak 500 ekor 40 mati dan milik Sunarto 1.800 ekor mati 5 ekor.

 

Sedangkan di Kecamatan Kedungadem, virus flu burung menyerang unggas milik peternak Mul Sutiono. Dari 200 ekor ayam petelur miliknya sebanyak 170 ekor mati. Virus flu burung itu diketahui setelah oleh tim kesehatan hewan dilakukan pengecekan hasil uji rapid test dengan AIV arigen kit yang menunjukan positif.

 

“Sebagian besar ayam yang mati ini karena tidak diberi vaksin AI (Avian Influenza) atau flu burung. Selain itu juga karena faktor cuaca. Pada waktu pancaroba dan cuaca ekstrem unggas akan lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya.

 

Agar virus mematikan dan bisa menular kepada manusia itu tidak menyebar, maka setiap unggas yang mati harus dikubur, jika baru gejala maka harus segera diberi desinvektan, melarang lalu lintas unggas dan pedagang keliling masuk ke lokasi kasus, melakukan karantina terhadap sisa ayam petelur yang masih hidup dengan dikandangkan dan pengetatan biosecurity,.

 

“Termasuk wilayah kasus tersebut masuk dalam pengawasan Dinas Peternakan dan Perikanan selama kurang lebih tiga bulan,” pungkasnya.(*dwi/mcb)

Leave a Comment