Share

Dishutbun Bojonegoro Dukung Pengembangan Tembakau Amil

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutun) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendukung pengembangan tanaman rajangan Amil di daerahnya, menjadi 1.200 hektare untuk musim tanam tahun mendatang, dengan pertimbangan menguntungkan petani.

“Jelas kami mendukung PT Sadana Arief Nusa Ngawi, yang akan mengembangkan tanaman tembakau rajangan Amil dari 512 hektare tahun ini menjadi 1.200 hektare, pada musim tanam tahun depan,” kata Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dishutbun Bojonegoro Khoirul Insan, di Bojonegoro, Sabtu (10/10).

Ia menjelaskan pengembangan tanaman tembakau rajangan Amil, akan diarahkan di sentra penghasil tanaman tembakau Virginia Voor Oosgt (VO), seperti Kecamatan Baureno, dan Kepohbaru.

“Petani di sentra tanaman tembakau Virginia VO jelas tertarik, sebab menguntungkan,” ucapnya, menegaskan.

Menurut dia, PT Sadana Arief Nusa Sadana Ngawi, akan mengembangkan tanaman tembakau rajangan Amil yang berasal dari jenis Perancak 95 asal Madura, karena dalam dua tahun terakhir pengembangan tanaman tembakau Amil cukup berhasil.

“Dari segi kualitas juga bagus dan harga yang dinikmati petani juga menguntungkan,” katanya, menegaskan.

Pada musim tanam tahun ini, lanjut dia, harga tembakau rajangan Amil bisa mencapai Rp40.000/kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga tahun lalu yang hanya Rp30.000/kilogram.

“Tapi jumlah tembakau yang harganya Rp40.000/kilogram tidak banyak,” ucapnya.

Secara umum, lanjut dia, harga tembakau rajangan Amil yang sekarang beku berkisar Rp22.000/kilogram sampai Rp36.000/kilogram.

Ia mengimbau petani mempertahankan kualitas tembakau rajangan Amil, dengan cara tidak mencampur panen tembakau petikan yang terbaik dengan panen petikan lainnya.

“PT Sadana juga harus tegas menolak tembakau yang dimasukkan petani yang ternyata camp(suran,” tandasnya.

Ia memperkirakan tanaman tembakau rajangan Amil seluas 512 hektare yang ditanam di sejumlah kecamatan, antara lain, Kecamatan Tambakrejo, Ngasem, Purwosari, Padangan, juga lainnya, baru sekitar 20 persen. (sa/mcb)

Leave a Comment