Share

Dishutbun Bojonegoro Imbau Petani Tidak Campur Tembakau

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengimbau petani tembakau di daerahnya tidak mencampur daun petikan tengah dengan daun petikan atas atau bawah, terutama dalam memasarkan tembakau rajangan.

“Kami mengimbau dalam merajang tembakau petani tidak mencampur tembakau petikan tengah dengan lainnya untuk menjaga kualitas,” kata Kepala Dishutbun Bojonegoro Nuzulul Hudaya, Jumat (18/9).

Ia meyatakan hal itu, menanggapi keluhan dari petani soal pengurangan pembelian tembakau rajangan Jawa di daerahnya, yang dilakukan pedagang musiman asal Temanggung, juga Muntilan, Jawa Tengah.

“Kami menerima keluhan dari petani di daerah kami bahwa pedagang tembakau musiman asal Temanggung, juga Muntilan Jawa Tengah, mengurangi pembelian tembakau rajangan Jawa,” ucapnya.

Dari hasil penelusuran yang dilakukan, menurut dia, petani di daerahnya dalam merajang tembakau Jawa, banyak yang mencampur tembakau petikan daun tengah dengan petikan daun lainnya.

“Petani seharusnya tidak mencampur seluruh petikan daun tembakau untuk menjaga kualitasnya,” katanya, menegaskan.

Oleh karena itu, ia meminta petani di daerahnya bersunguh-sunguh dalam memproses tembakaunya dengan tidak mencampur seluruh daun, tetapi memilah tembakau sesuai dengan kualitasnya.

Meski demikian, menurut dia, petani yang menanam tembakau rajangan Amil di sejumlah kecamatan seluas 510 hektare, bisa memperoleh harga tembakau yang memadai.

Dalam menanam tembakau rajangan Amil, katanya, petani bermitra dengan PT Sadana Arif Nusa Ngawi.

“Harga tembakau rajangan Amil yang dibeli PT Sadana Arif Nusa bisa mencapai Rp35.000/kilogram,” katanya, menegaskan.

Data di Dishutbun, luas areal tanaman tembakau pada musim tanam tahun ini, mencapai 6.337 hektere, dengan rincian, tembakau Virginia Voor Oogst (VO) 4.044,5 hektare dan Jawa 2.292,5 hektare. (sa/mcb)

Leave a Comment