Share

Disnakkan Bojonegoro Perketat Pengawasan Sapi Ongole

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Peternakan dan perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro memperketat pengawasan sapi ongole. Hal ini dikarenakan, sapi peranakan ongole alias sapi putih kini jadi incaran para tengkulak untuk dijual ke Jakarta dan Bandung. Menyusul langka dan mahalnya harga daging sapi akibat minimnya stok hewan ternak ini di Ibukota.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Subekti mengatakan, di Bojonegoro terutama di Desa Napis Kecamatan Tambakrejo, sedang dibuat proyek percontohkan peternakan sapi. Di Desa Napis, yang sudah ditetapkan sebagai daerah pengembangan sapi unggulan nasional sapi peranakan ongole dijaga secara cermat. Sapi betina unggulan, tidak boleh dijual, dan Pemerintah Bojonegoro memberi perhatian khusus.

“Jadi, sapi bibit unggul tidak boleh dijual,” tegasnya, Rabu (19/8).

Dia menyebutkan, di Kabupaten Bojonegoro populasi ternak sapi mengalami peningkatan pesat. Untuk tahun 2015 ini, jumlah sapi potong sebanyak 169.639 ekor, sapi perah sebanyak 29 ekor, dan kerbau sebanyak 1.085 ekor. Khusus untuk sapi, Bojonegoro terus mengembangkan sapi ongole karena berbagai pertimbangan.

“Di antaranya karena perawatannya mudah dan murah. Makanya, ketika ada tawaran dari para tengkulak dari luar kota , Pemerintah Bojonegoro langsung bersikap, yaitu melarang dijual terutama sapi betina dan sehat,” jelasnya.

Sapi peranakan ongole sebagian besar terpusat di Kecamatan Tambakrejo, Ngraho, Ngambon, Ngasem, Trucuk dan sebagian di beberapa kecamatan di Bojonegoro bagian timur. Sapi lokal dengan keunggulan, kadar lemak rendah, tahan cuaca serta mudah perawatan itu, kini tengah jadi idola peternak di kabupaten ini. Apalagi, sapi ongole baru saja ditetapkan sebagai bibit unggul nasional oleh Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian awal bulan Juni 2015 dengan areal pembibitan dan pengembangbiakan berada di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro.

Namun, di areal pembibitan sapi ongole yang kini memelihara sekitar 2900 bibit unggul ongole, para tengkulak membujuk peternak. Tujuannya agar peternak mau menjual sapi ongole yang rata-rata punya berat di atas 550 kilogram. Tengkulak juga memberikan tawaran menarik peternak dan mau menjual sapinya dengan harga tinggi.

“Ya, kita didatangi tengkulak agar menjual sapi,” ujar Ketua Kelompok Peternak Sapi Lembu Seto Desa Napis, Agus Purnomo pada kanalbojonegoro.com.

Menurut Agus, tawaran untuk menjual sapi datang dalam satu pekan ini. Para tengkulak, rata-rata adalah para pengusaha yang sudah paham dengan potensi daerah-daerah penghasil ternak seperti di Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Para tengkulak juga beranai membayar di atas rata-rata sapi yang dijual. Misalnya, jika ada yang menjual Rp40 ribu/kilogram sapi hidup, tengkulak berani memberi harga lebih mahal.

Tetapi, para peternak di Desa Napis, sudah berkomitmen untuk tidak menjual sapi peranakan ongole. Alasannya, bahwa sapi jenis ini, masih dalam pengembangan dan pembibitan. Dengan demikian, untuk jangka waktu tertentu, sapi dari Desa Napis—terutama sapi betina.

”Kita komitmen tidak menjual,” imbuhnya.(dj/*mcb)

Leave a Comment