Share

Disperinaker Bojonegoro Tidak Pernah Sediakan Tenaga Kerja Migas

Bojonegoro, 17/4 (Media Center) – Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro, Jawa Timur, tidak pernah menyiapkan tenaga kerja yang khusus dipersiapkan bekerja di bidang migas, karena keterbatasan alokasi anggaran.

“Kami tidak pernah mempersiapkan pelatihan tenaga kerja yang khusus dipekerjakan untuk bidang migas,” kata Kepala Disperinaker Bojonegoro Agus Supriyanto, di Bojonegoro, Senin (16/4).

Selama ini, lanjut dia, disperinaker hanya menggelar pelatihan yang bersifat rumah tangga dalam setahun, seperti program pelatihan membuat keset.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pengembangan dan Penempatan Tenaga kerja Disperinaker Joko Santoso yang menyebutkan disperinaker tidak pernah menggelar pelatihan tenaga kerja bidang migas untuk memperoleh sertifikasi.

Tapi, lanjut dia, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan Pertamina EP Cepu, pernah beberapa kali mengelar pelatihan tenaga kerja lokal di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Migas (PPSDM) Cepu, Jawa Tengah.

Hingga saat ini, lanjut dia, sudah ada sebanyak 270 tenaga kerja yang lulus ujian sertifikasi mulai las, operator, permesinan juga bidang lainnya program “corporate social responsibility” (CSR) Pertamina EP Cepu.

“PEPC sudah tiga kali menggelar pendidikan dan pelatihan keterampilan industri migas. Begitu pula ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) juga tiga kali menggelar program pendidikan sertifikasi dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat hampir sama dengan program PEPC,” kata dia menjelaskan.

Bagian Personalia PT Rekayasa Industri (Rekind) Sigit Utomo, sebelumnya, menjelaskan kebutuhan tenaga kerja di proyek pengembangan gas JTB dengan jumlah sekitar 6.000 tenaga kerja tidak sekaligus, tetapi bertahap.

“Rekrutmen tenaga kerja akan mulai April ini. Pada puncaknya kebutuhannya sekitar 6.000 tenaga kerja baik tenaga kerja “skill” maupun “non skill”,” kata dia.

Dari sekitar 6.000 tenaga kerja di proyek itu, lanjut dia, perhitungannya sekitar 60 persen warga lokal, sedangkan 40 persen warga luar daerah. “Tapi kami tetap akan mengutamakan tenaga kerja lokal,” ucapnya. (*/mcb)

Leave a Comment