Share

Disperindag Bojonegoro Belum Gelar Operasi Pasar

Bojonegoro (Media Center) – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperinda) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, belum melakukan operasi pasar, dengan pertimbangan harga beras kualitas medium di berbagai pasar tradisional di daerah setempat, masih sekitar Rp8.500/kilogram.

“Sampai saat ini kami belum menggelar operasi pasar, karena harga beras kualitas medium masih di bawah Rp9.000/kilogram,” kata Kepala Disperindag Bojonegoro Basuki, Jumat (18/9).

Dengan harga beras yang terjadi saat ini, katanya, para petani bisa mengembalikan biaya produksi menanam padi, bahkan memperoleh keuntungan.

“Kalau ada operasi pasar kemudian harga turun, maka akan merugikan petani. Ya, biar dulu petani menikmati harga gabah dan beras tinggi,” ucapnya.

Meski demikian, menurut dia, pemantauan harga beras tetap dilakukan, sebagai antisipasi kalau terjadi lonjakan harga di luar kewajaran.

“Kalau memang harga beras naik di luar kewajaran, bisa jadi operasi pasar baru dilaksanakan,” ucapnya, menegaskan.

Data di Dinas Pertanian, tanaman padi yang sudah terpanen di daerah setempat seluas 130.055 hektare, dengan produksi mencapai 728.308 ton gabah kering giling (GKG), per Agustus.

Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro Akhmad Djupari optimistis target tanaman padi yang ditetapkan tahun ini seluas 151.000 hektare, dengan produksi 850.000 ton GKG, bisa tercapai.

Kekurangan target produksi padi, menurut dia, akan dipenuhi dari tanaman padi sekitar 15.000 hektare yang ditanam petani di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, pada Juni, Juli dan Agustus.

“Tanaman padi di sepanjang DAS Bengawan Solo tersebut saat ini yang sudah mulai panen sekitar 7.000 hektare,” ucapnya. (sa/mcb)

Leave a Comment