Share

Disperta Bojonegoro Imbau Petani Jeda Tanam Padi

Bojonegoro, 8/7 (Media Center) – Petani di Kabupaten Bojonegoro dihimbau untuk tidak melakukan tanam padi untuk menghindari serangan hama wereng batang coklat (WBC). Hama ini paling berbahaya bagi tanaman padi  dan  banyak merugikan  petani karena bisa mengakibatkan puso dan gagal panen
Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Jupari menjelaskan penyebab utama terjadinya serangan WBC ini karena tersedianya makanan (tanaman padi) sepanjang tahun atau 3 kali tanam, cuaca dengan suhu dan kelembapan tinggi yang memacu perkembangbiakan hama, dan tidak adanya pergiliran tanaman dan varietas padi.
“Jadi sekarang ini saatnya untuk tidak menam padi agar memutus siklus wereng. Petani bisa menanam palawija atau tanaman lainnya,” himbau Achmad Djupari, Kamis (6/7).
Adapun ciri-ciri tanaman padi terserang WBC akan berubah menjadi kekuningan, pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil, tanaman padi menjadi kering dan mati, perkembangan akar merana dan bagian bawah tanaman yang terserang menjadi terlapisi oleh jamur.
Menurut dia, jika tanaman padi sudah terserang hama ini petani harus segera membuat sanitasi pada pematang maupun di lahan pertanaman, aplikasi  menggunakan  Agens  Hayati  (Beauveria Bassiana),  memiyak   tanaman  yang  sudah  umur 70 hst  ke  atas setiap 1 M2, menggunakan  pestisida harus  sesuai anjuran, dan  pengamatan secara intensif terhadap kondisi tanaman padi  di  lapangan,  dan  mengkoordinasikan hasilnya, dengan petugas lapangan (PPL).
“Jangan sampai petani tergoda menanam padi karena sekarang ini musim kemarau basah dan hujan masih sering turun. Justru kalau menanam padi akan sangat berpotensi terserang wereng coklat,” tegasnya.
Jupari mengungkapkan, sesuai pemetaan yang dilakukan, dari 28 kecamatan yang tersebar di Bojonegoro, hanya satu kecamatan yang aman dari serangan wereng yakni Kecamatan Kedewan. Sedangkan 10 kecamatan lainnya potensial, dan 11 kecamatan lainnya sporadis, dan enam kecamatan lainnya endimis wereng coklat.
Keenam kecamatan yang endemic WBC adalah Kecamatan Ngraho meliputi Desa Luwihaji, Sugihwaras, Sumberagung, Mojorejo, Ngraho, Blimbinggede, Jumok, Nganti, Pandan, Tanggungan, Kalirejo, Tapelan, Sumberarum, Payaman, Bancer, Klempun. Kemudian Kecamatan Sukosewu meliputi Semawot, Kalicilik, Sukosewu, Klepek, Tegalkodo, Sitiaji, Purwosari, Pacing, Jumput, Duyungan, Semenkidul, Sidodadi, Sidorejo, Sumberjokidul.
Kecamatan Kanor meliputi Desa Sarangan, Tejo, Pesen, Samberan, Nglarangan, Sroyo, Bakung, Palembon, Simbatan, Cangakan, Kabalan, Piyak, Caruban, Sedeng, Bungur, Simorejo, Sumberwangi, Tambahrejo, Kanor, Prigi, Temu, Kedungprimpen, Gedongarum, Pilang, Semambung. Kecamatan Baureno meliputi Desa Banjaranyar, Ngemplak, Sraturejo, Blongsong, Baureno, Trojalu, Tulungagung, Selorejo, Tlogoagung, Sumuragung, Gajah, Gunungsari, Kalisari, Tanggungan, Lebaksari, Bumiayu, Kauman, Pasinan, Banjaran, Drajat, Sembunglor, Pomahan, Karangdayu, Kedungrejo, Pucangarum Kecamatan Kalitidu ada Desa Sumengko, Mlaten, Talok, Brenggolo, Grebegan, Wotanngare, Kalitidu, Panjunan, Mayangrejo, Mayanggeneng, Pilangsari, Mojosari, Pungpungan, Ngujo, Ngringinrejo, Mojo, Leran, Sukoharjo. Kecamatan Bojonegoro meliputi Desa Semanding, Kalirejo, Mulyoagung, Campurejo, Ngrowo, Kadipaten, Kepatihan, Mojokampung, Sukorejo, Pacul, Jetak.
“Untuk wilayah Trucuk meliputi Desa Banjarsari, Sranak, Guyangan, Sumberrejo, Trucuk, Tulungrejo, Mori, Padang, Pagerwesi, Sumbangtimun, dan Kanten,” pungkas Jupari.(dwi/mcb)

Leave a Comment