Share

Dunia Tertarik Kahyangan Api dan Nasi Jagung Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – “Ya man…. kalian harus coba ke Indonesia, saya sudah beberapa kali ke Indonesia, masakannya enak-enak,” kata Mahasiswa asal Bangladesh, di “Kolonial Institut” (KIT) Amsterdam, Belanda Adnan, pekan lalu.

“Oh…. really? sepertinya menarik, kita di Italy juga punya makanan dari jagung yang dihaluskan, namanya Polente, sepertinya itu lebih menarik buat saya dibanding nasi, karena saya tidak terlalu suka nasi,” timpal mahasiswa lainnya asal Italy Riccardo.

Sebelumnya, Riccardo menunjuk foto nasi jagung di buku wisata kuliner Bojonegoro, yang saya tunjukkan kepada sejumlah mahasiswa dari berbagai negara yang mengikuti pelatihan di KIT, ketika makan besama di sebuah restoran sebuah hotel di Amsterdam, pekan lalu.

Tidak hanya itu, Adnan juga mengatakan, kepada mahasiswa lainnya,”Oh… berarti kalau saya ada pekerjaan / penelitian di Indonesia, saya harus lihat itu,” ucap Adnan, ketika saya tunjukkan sebuah objek wisata api abadi Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Saya sendiri sangat antusias menunjukkan Kahyangan Api, karena api abadi di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, lokasinya tidak jauh dari tempat kelahiran saya di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem.

Keinginan datang ke Bojonegoro untuk menyaksikan Kahyangan Api, juga diamini mahasiswa lainnya, yaitu, Anne dan Amanda (Denmark), Riccardo (Italy).

Sebelum itu, seorang pekerja asal Swiss, Patrick, yang sedang bekerja di Amsterdam, juga sangat antusias datang ke Bojonegoro, terutama untuk menyaksikan api abadi Kahyangan Api.

“saya tidak tahu, mungkin setelah proyek saya di Amsterdam selesai, setelah itu saya akan ada projek di Kuwait, mungkin ketika di Kuwait saya bisa mengunjungi Indonesia,” tutur Patrick, seraya membuka-buka buku wisata dan kuliner Bojonegoro.

Ia juga sempat menanyakan produksi mebel Bojonegoro, yang dinilai sangat bagus dan menanyakan makanan belut bakar dan lainnya.

Satu tugas tambahan mempromosikan wisata dan kuliner Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sudah saya anggap cukup, selama saya mengikuti pelatihan di “Kolonial Institut” (KIT) Amsterdam, Belanda (27 Februari-11 Maret), yaitu .

Tugas yang baru pertama kali saya jalankan seumur hidup ini, hanya berbekal enam buku wisata dan kuliner (masing-masing tiga buku) dari Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Agropolitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Dyah Enggarini.

Promosi wisata dan kuliner terpaksa saya jelaskan melalui Bahasa Inggris, sebab dalam buku wisata dan kuliner yang dilengkapi dengan foto berwarna Disbudpar Bojonegoro itu, hanya dalam Bahasa Indonesia.

Menanggapi promosi wisata dan kuliner Bojonegoro di Amsterdam itu, Kepala UPT Agropolitan Disbudpar Bojonegoro Enggarini, menyatakan gembira, karena sejumlah wisata dan kuliner Bojonegoro, diminati warga luar negeri.

Ia mengaku akan segera mencetak buku wisata dan kuliner Bojonegoro dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.

“Nanti akan kami buat buku wisata dan kuliner dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga kalau ada warga Bojonegoro yang ke luar negeri bisa membawa buku wisata dan kuliner untuk dipromosikan,” jelasnya. (*/mcb)

Leave a Comment