Share

Festival Geopark 2019 : Cara Bojonegoro Kolaborasi Promosikan Wisata dan Kesenian Lokal

Bojonegoro, Media Center – Sejumlah kesenian dan budaya tradisional ditampilkan dalam Festival Geopark Bojonegoro ke 2 yang dipusatkan di Objek Wisata Teksas Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Minggu (8/12/2019). Perhelatan tahunan yang mengusung tema “Wonocolo Folklore Fiesta” ini, merupakan bentuk kolaborasi dari 28 kecamatan di lima eks pembantu bupati untuk pengembangan, perpaduan sebuah konsep berkelanjutan yang terfokus pada pelestarian lingkungan, pendidikan, dan peningkatan ekonomi yang diwujudkan dalam sebuah event.

Kesenian dan budaya tradisional khas Bojonegoro unjuk gigi dalam festival tersebut. Mulai dari tari jaranan cilik, dramatari mluntur lantung, reog, sandur, karawitan, dan seni kentrung, hingga ditutup dengan langen tayub yang berlangsung malam ini.

“Semua kesenian itu merupakan potensi lokal yang dimiliki oleh masing-masing kecamatan. Hari ini mereka tampil menjadi satu dan berkolaborasi dalam Festival Geopark Bojonegoro ke dua,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Amir Syahid di lokasi festival.

Dijelaskan, Festival Geopark Bojonegoro ke 2 ini merupakan amanah dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) untuk menjaga kelestarian lingkungan. Juga implementasi dari Keputusan Bupati tentang Badan Pengelola Geopark Bojonegoro, karena Bojonegoro telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional.

“Selain kesenian, juga digelar bazar untuk mengenalkan potensi lokal yang ada di Kedewan,” tandasnya.

Susur destinasi wisata Teksas Wonocolo menggunakan Jeep maupun motor trail menjadi rangkaian Festival Geopark Bojonegoro. Melalui kegiatan ini, peserta dapat melihat eksplorasi dan eksploitasi sumur minyak tua yang berusia ratusan tahun yang dilakukan secara tradisional. Track-track (jalur) menantang telah disiapkan pengelola untuk menguji adrenalin.

“Susur destinasi ini yang digemari wisatawan saat berkunjung di sini,” ucap pria yang pernah menjabat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro itu.

Amir berharap melalui Festival Geopark Bojonegoro dapat lebih mengenalkan potensi wisata, seni dan budaya Bojonegoro kepada masyarakat luas. Sehingga dapat menarik wisatawan baik lokal maupun manca untuk pinarak di Bojonegoro.

“Apalagi Petroleum Geopark Bojonegoro memiliki keunikan tersendiri. Yakni batuan reservoar penghasil minyak bumi pada kedalaman rata-rata +100 meter di bawah permukaan tanah (kedalaman reservoir berada diatas permukaan air laut). Ini membuktikan bahwa minyak bumi di Wonocolo merupakan reservoar terdangkal di Indonesia bahkan dunia,” pungkasnya.

Senada disampaikan Wakil Bupati Bojonegoro, Budi Irawanto. Ia menyampaikan, Festival Geopark ke 2 tahun 2019 yang dipusatkan di Teksas Wonocolo ini bertujuan untuk memperkuat branding Geopark yang mencerminkan karakteristik pariwisata Bojonegoro agar lebih dikenal oleh masyarakat luas, membangun kerja sama dan memperkuat pelestarian khas di wilayah kecamatan melalui sebuah event di tingkat kabupatan.

“Kolaborasi yang dilakukan merupakan bentuk keanekaragaman geologi, budaya dan hayati untuk mengangkat potensi lokal,” tegas wabup.

Diharapkan Festival Geopark ini menjadi menjadi panduan pembangunan dan pengembangan wisata, lingkungan dan budaya di Bojonegoro.

“Sehingga dapat mendorong perekonomian masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Geopark Bojonegoro merupakan salah satu geopark nasional. Kawasan geopark Bojonegoro ini resmi memperoleh sertifikat geopark nasional sebagai kawasan cagar alam geologi dari Badan Geologi, Kementerian ESDM pada 2017 lalu. Dengan areal seluas 23 kilometer persegi dan dihuni 1400 jiwa, Kawasan Geopark Bojonegoro menjanjikan wisata alam khususnya berupa hamparan minyak yang menyatu dengan kebudayaan setempat.

Selain hamparan minyak, masih ada destinasi wisata yang juga tersebar di Kawasan Geopark Bojonegoro. Di antaranya, struktur “Antiklin” Kawengan bagian puncak antiklin, bagian sayap kanan dan sebagian sayap kiri, semuanya di Kecamatan Kedewan.

Geopark lainnya adalah Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Dung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, dan lokasi temuan fosil gigi hiu purba di Desa Jono, Kecamatan Temayang.

Selain banyak dikunjungi wisatawan, selama ini kawasan Geopark Bojonegoro juga kerap dijadikan sebagai laboratorium alam oleh perguruan tinggi ternama dengan belajar langsung. Mereka biasanya akan terkonsentrasi di kawasan hamparan minyak. Di kawasan ini, terdapat sejumlah titik yang kerap dikunjungi seperti pertambangan minyak yang telah dikelola selama 110 tahun. Terdapat 700 sumur minyak yang 200 sumur di antaranya ditambang secara tradisional.(Dwi)

Leave a Comment