Share

Festival Salak Bojonegoro Tidak Libatkan Desa Lain

Bojonegoro, (Media Center) – Festival Salak di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak melibatkan desa lainnya yang juga sebagai penghasil salak dalam membuat gunungan seberat empat kuintal salak.

“Desa Tanjungharjo, di Kecamatan Kapas, yang juga penghasil salak tidak dilibatkan dalam membuat gunungan karena di desa setempat sudah ada agropolitan salak,” kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Bojonegoro Muhammad Yusuf, Rabu (25/1).

Sesuai rencana gunungan salak seberat empat kuintal dengan jumlah sekitar 3.000 salak, akan diarak di desa setempat, Kamis (26/1).

“Gunungan salak ini akan diarak keliling desa. Di belakang gunungan puluhan warga yang mengiringi membawa 26 jenis kuliner olahan dengan bahan salak,” jelasnya.

Dari data yang masuk ke panitia, katanya, kuliner berbahan salak yang sudah dikembangkan di desa setempat, antara lain, keripik, wingko, kerupuk, jenang, kopi salak, kare salak, juga kuliner lainnya dengan bahan salak.

Lebih lanjut ia menjelaskan salak yang dimanfaatkan untuk gunungan itu dikumpulkan dari warga di desanya yang hampir semuanya memiliki tanaman salak.

Desa Wedi yang memiliki luas sekitar 300 hektare memiliki jumlah penduduk 1.308 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 4.035 jiwa.

“Hampir semua warga membantu salak untuk gunungan, karena warga di desa kami semuanya memiliki salak minimal 15 pohon sampai 1.000 pohon,” jelas dia.

Hal senada disampaikan Kaur Pemerintahan Desa Wedi Siti Chotijah yang menyebutkan satu pohon salak di desa setempat bisa menghasilkan sekitar 100 salak per tahunnya dengan masa panen dua kali.

Panen salak di desa setempat, lanjut dia, selain Juni-Juli dan Agustus, juga Nopember, Desember dan Januari.

Warga di desa setempat dalam menjual salak tidak dengan sistem kilogram, tetapi per seratus buah yang sekarang ini harganya berkisar Rp30.000-Rp50.000 per seratus buah.

“Meskipun sudah masa akhir panen salak, tetapi produksi masih melimpah,” ucap warga desa setempat Samian.

Ia menambahkan Festival Salak yang pertama kalinya itu bertujuan memperingati hari kelahiran perintis penanam salak di desa setempat yaitu Basyir Mujtaba, yang aslinya warga Desa Pacul, Kecamatan Kota.

Ketika itu, ia (Basyir Musjtaba) membawa biji salak dari lokasinya belajar mengaji di Batu Ampar, Madura yang kemudian ditanam di desa setempat.

Acara Festival Salak, juga akan dihadiri Bupati Bojonegoro Suyoto, dan juga dimeriahkan dengan penjualan salak yang digelar warga di desa setempat dan menampilkan produk kuliner unggulan 10 desa di Kecamatan Kapas. (*/mcb)

Leave a Comment