Share

Gelaran Festival Salak Dongkrak Harga Salak Wedi

Bojonegoro, 15/1 (Media Center) – Festival salak tahun ke 2 di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, berlangsung meriah, Minggu (14/1/2018). Menariknya, warga di setiap RT baik tua maupun muda bersolek dan berdandan menggunakan kostum beraneka warna untuk mengikuti prosesi arak-arakan salak.

Kaum ibu dan remaja putri membawa bungkusan yang berisikan aneka olahan salak mulai jenang salak, kue kering dari salak, kurma salak dan produk olahan lainnya. Warga bersuka cita memanen salak.

Semakin siang warga yang berkumpul di Balai Desa Wedi semakin menyemut. Begitu juga di sepanjang jalan yang menjadi rute arak-arakan gunungan salak dipadati warga dari dalam dan luar desa.

M.Suaeb, Kelompok Sadar Wisata Desa Wedi, Kecamatan Kapas, menjelaskan festival salah adalah event kedua yang digelar sebagai bentuj rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan banyak karunia kepada warga utamanya petani salak di Desa Wedi Kecamatan Kapas.

“Sekaligus ini sebagai sarana mengenang jasa KH Basir Mutjaba selaku sesepuh desa yang juga kali pertama mengenalkan salak di desa wedi ini,” ujarnya di sela- sela kegiatan.

Puncak Festival salak ini  adalah dengan mengarak gunungan salak yang terdiri dari gunungan salak raksasa dan 21 gunungan salak kecil yang merupakan persembahan salak dari masing masing RT di Desa Wedi .

Sueb menambahkan festival salak ini berlangsung selama 3 hari yakni mulai tanggal 12 sampai dengan 14 Januari dengan aneka acara mulai bazar yang memamerkan produk produk olahan salak dan produk lokal dari warga setempat.

Maesaroh, (67), petani salak setempat mengaku dirinya berjualan salak sudah 15 tahun yang lalu. Dia menceritakan dulu harga salak Rp 20 ribu per seratus buah salak, kini harganya meningkat menjadi Rp50-70 ribu per 100 buah.

“Musim panennya bulan 10 sampai bulan 3, kemudian bulan 5 sampai dengan bulan 7,” tutur perempuan senja itu.

Mbah Maesaroh menambahkan, salak wedi memiliki dua jenis yakni Menjalin dan Kebo. Menurutnya banyak warga yang lebih memilih salak menjalin.

“Karena rasanya manis, masir, dan asam serta banyak mengandung air,” ungkapnya.

Sejak dua tahun ini agrowisata salak mulai menunjukkan geliat yang menggemberikan mulai dari jumlah panen dan jumlah permintaan. Petani berharap salak ini akan terus jaya dan generasi muda mau mengembangkan salak ini.(*dwi/mcb)

Leave a Comment