Share

Gurihnya Nasi Timbel Nusantara Di Bojonegoro

Bojonegoro, 16/12 (Media Center) – Berbekal pengalaman pernah menjadi pembantu di sebuah restoran di Amerika Serikat, akhirnya mengantarkan Yanto, warga Bojonegoro, Jawa Timur, membuka restoran dengan menu khas nasi Timbel.

Meski menu nasi Timbel di restorannya yang diberi nama Daun Pisang di Jalan Panglima Sudirman bukan khas Bojonegoro, tetapi tetap tidak masalah karena nasi Timbel merupakan makanan khas Nusantara.

“Nasi Timbel ini makanan khas Nusantara. Nasi Timbel menempati urutan kedua setelah menu Rendang yang menempati posisi menu makanan paling enak di dunia,” kata pemilik Restoran Daun Pisang Yanto, dalam perbicangan dengan kanalbojonegoro, pekan lalu.

Ia mengibaratkan bahwa nasi Timbel merupakan tumpeng mini sehingga cara penyanyiannya nasi dibungkus dengan daun pisang kemudian diberi berbagai aneka bumbu sehingga rasanya gurih.

Selain itu, untuk lauknya juga daging sapi yang dilengkapi dengan lalapan khas Sunda dan sambal.

“Nasi Timbel ini khas masakan Pasundan Jawa Barat. Biasanya di Jawa Barat dilengkapi menu ikan asin, tetapi di Bojonegoro ya saya beri daging sapi,” ucap alumnus UGM yang pernah belajar di Amerika Serikat itu.

Berdasarkan catatan di wikipedia menyebutkan Nasi Timbel Atau dalam Bahasa Sunda adalah Sangu Timeul adalah masakan Indonesia Khas Sunda, Jawa Barat, Nasi Timbel sama dengan Nasi pada umumnya.

Akan tetapi nasi timbel dibungkus dengan daun pisang, dan juga Nasi yang digunakan pun nasi yang Pulen dalam Bahasa Sunda, Biasanya Beras yang dipakai buat Nasi Timbel adalah jenis Beras Bagolo atau Beras Merah Campuran.

Dari catatan yang diperoleh terkait sejarah keberadaan nasi Timbel yaitu awalnya tersedia untuk petani sebelum pergi ke lapangan atau ladang.

Petani erat membungkus nasi dengan daun pisang muda sehingga ketika Anda makan saat makan siang, Tetap beras sangat pulen, tidak keras atau pir.

Hal ini dapat melengkapi ikan dengan bumbu, obesitas (empal), ayam. Tentu Tapi memimpin tidak dapat dipisahkan salad beras dan salsa.

Ada versi lain dari pendapat beras Timbal dalam konteks pertarungan. Dalam artikel itu mengatakan Bahwa Ketika melawan penjajah, pejuang selalu dilengkapi gula “nasi timbel.”

Satu pada waktu itu, pengiriman yang telah diambil Sudah Dilengkapi dengan peralatan. Tentu saja, itu adalah integritas terbatas atau permukaan.

Yanto dan Teh Yun optimistis nasi Timbel yang dijual di restorannya dengan harga Rp30.000 per porsi akan mampu diminati penikmat kuliner Nusantara.

Hanya saja pengemar nasi Timbel di restorannya sebagian besar masih kalangan menengah ke atas.

Oleh karena itu, di restoran setempat juga disediakan berbagai aneka menu lainnya, seperti sop buntut.

“Saya termasuk rutin makan nasi Timbel kalau pulang ke Bojonegoro,” jelas seorang dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNV) Yogyakarata Sri Suryaningsum, warga asal Bojonegoro itu. (*/mcb)

Leave a Comment