Share

“Guyihnya,…. Oseng-Oseng Enthung” Hutan Jati Bojonegoro

Bojonegoro (Media Center) – Satu makanan khas di daerah hutan jati Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang lagi “ngetren” yaitu “Enthung” atau ulat jati (Hyblaea Puera).

Ulat jati dalam bentuk kempompong itu, bisa dijumpai di berbagai lokasi, mulai di kawasan hutan jati, seperti di Kecamatan Dander, Bubulan, juga di sejumlah pasar tradisional, dalam beberapa hari terakhir ini.

“Tidak semua orang suka makanan “enthung”. Tapi, kalau cara memasaknya benar, tidak akan menimbulkan alergi gatal-gatal,” kata seorang warga Bojonegoro Tanto, dalam perbincangan dengan kanalbojonegoro, pekan lalu.

Ia mengungkapkan cara memasak “enthung” agar tidak menimbulkan alergi, harus dicuci dengan air panas tiga kali.

Caranya, “enthung” yang ada di tempat baskom atau tempat lainnya diberi air panas, kemudian airnya dibuang, hingga tiga kali.

“Dengan diberi air panas tiga kali, maka kandungan yang mengakibatkan alergi gatal-gatal atau “biduren”, akan berkurang. Rasa “enthung” tetap gurih,” paparnya.

Ia mengaku baru saja memasak “oseng-oseng enthung” dan disajikan kepada teman-temannya yang datang dari berbagai daerah di Tanah Air, untuk berlibur Tahun Baru 2016.

“Semua teman-teman saya dari berbagai daerah suka dengan menu “oseng’oseng enthung” yang saya sajikan,” ucapnya, dibenarkan temannya Yohana Lianawati, warga asal Kelurahan Banjarjo, Bojonegoro.

Menurut warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota, Prapto, cara membeli “enthung” di pasar atau langsung di tepi hutan, seyogyanya memilih yang warnanya masih merah.

“Yang warnanya kehitam-hitaman, rasa gurihnya berkurang, karena “enthung” sudah tua,” ucapnya, menegaskan.

Tidak semua orang suka menu makanan “Enthung”, dengan berbagai alasan, mulai tidak tahan, karena alergi, sampai yang tidak suka dengan alasan jijik.

Namun, dari data di google dengan memasukkan kata kunci ulat jati keluar hasil 288.000 item, “enthung” 33.400 item dan “oseng-oseng enthung” 444 item.

Dari data yang ada sebagian besar menyajikan paparan terkait menu makanan khas hutan jati “enthung”. Seorang warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Slamet, mengaku ketika kecil sangat suka sekali dengan “oseng-oseng enthung” atau enthung goreng.

“Tapi setelah dewasa ketika saya mencoba makan langsung gatal-gatal. Setelah minum obat anti alergi, maka gatal-gatal di sekujur tubuh saya langsung hilang,” paparnya.

Di berbagai daerah yang terdapat hutan jati, mulai Bojonegoro, Tuban, Blora, Jawa Tengah, juga daerah lainnya di Tanah Air, sekarang ini masanya warga di sekitar kawasan hutan berburu “enthung”.

Meski mudah diperoleh, tapi nyaris tidak ada warung makanan atau restoran yang khusus menyajikan menu makanan “enthung”.

Dengan demikian, bagi yang ingin mencoba menu “enthung” bisa memasak sendiri, dengan cara mudah, cukup dengan bumbu bawang putih, bawang merah, garam, dan digoreng, sudah bisa langsung disantap.

“Saya sehari bisa memperoleh beberapa cangkir “enthung” di hutan juga di sawah. Kami semua menjual Rp5.000 per cangkirnya ,” jelas seorang remaja yang menawarkan “enthung” di tepi hutan di Kecamatan Kedewan, bersama sejumlah remaja lainnya.

Musim “enthung” di kawasan hutan jati tidak akan berlangsung lama, karena sifatnya musiman. Nah, bagi yang berminat sekarang waktunya mencicipi “oseng’oseng enthung”, nan gurih dan lezat. Siapa takut? (*/mcb)

Leave a Comment